Berbagi Semangat Sehat Penuh Gizi ke Warga Ende

Kekurangan gizi dan gizi buruk menjadi perhatian bagi anak-anak di Indonesia. Untuk itu, ACT dan Mondelez Internasional menggelar Bengkel Gizi Terpadu di Ende, NTT.

Berbagi Semangat Sehat Penuh Gizi ke Warga Ende' photo
Relawan medis ACT memberikan penyuluhan kesehatan untuk warga Ende, Sabtu (8/2). Aksi ini merupakan bagian dari program Bengkel Gizi Terpadu dari ACT yang berkolaborasi dengan Mondelez Internasional. (ACTNews/Muhajir Arif Rahmani).

ACTNews, ENDE – Indonesia belum terlepas dari permasalahan gizi buruk dan gizi kurang. Di beberapa wilayah, gizi buruk dan gizi kurang masih membelenggu generasi penerus bangsa. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan 2018, sejumlah lima provinsi di Indonesia masih memiliki tingkat gizi buruk cukup tinggi. Mereka di antaranya Maluku (7,4%), Nusa Tenggara Timur (7,3%), Gorontalo (6,8%), Aceh (6,4%) dan Sulawesi Barat (6,3%).

Terus berikhtiar mengentaskan permasalahan gizi di Indonesia, Aksi Cepat Tanggap (ACT) berkolaborasi dengan Mondelez Internasional kembali menggelar Bengkel Gizi Terpadu. Bertema "Berbagi Harapan dengan Aksi ACT dan Mondelez Internasional", Bengkel Gizi Terpadu hadir di Ende, NTT, wilayah yang memiliki tingkat gizi buruk cukup tinggi. Salah satu yang menjadi perhatian ialah tumbuh kembang balita di Kabupaten Ende.

Menurut dokter Dorotea Ayu Vebrianti Lassa (33), Kepala Puskesmas Ndetundora, Kecamatan Ende, salah satu faktor pemicu persoalan gizi buruk dan gizi kurang di Kabupaten Ende adalah kurangnya edukasi tentang pola hidup sehat dan gizi, terutama terhadap anak balita. Di Ende sendiri, terjadinya kasus ini lebih pada pola asuh orang tua. Biasanya, orang tua yang masih memiliki balita meninggalkan mereka sendiri untuk berkebun, tanpa memperhatikan apa yang anak mereka konsumsi dan waktu makannya.

Kadang dititipkan sama neneknya dan neneknya juga tak terlalu memperhatikan untuk asupan gizi cucunya,” ungkap Dorotea kepada ACTNews, Sabtu (8/2).


Pemberian susu ke anak di Ende. Program ini merupakan bagian dari peningkatan gizi anak di NTT dari ACT. (ACTNews/Muhajir Arif Rahmani)

Selain menggelar pelayanan kesehatan, ACT dan Mondelez Internasional juga memberikan edukasi ke orang tua. Intervensi gizi juga diberikan kepada anak yang mengalami gizi buruk dan gizi kurang.

Kami sangat senang bisa bersinergi dengan ACT dan Mondelez, sinergi dan bantuan ini kami sangat antusias menerimanya. Ini karena banyak kasus gizi kurang dan buruk di daerah kami, ada beberapa kasus yang memang perlu penanganan. Kami mengucapkan syukur kolaborasi ini sangat berefek, di mana bulan ini terjadi peningkatan gizi anak-anak yang gizi buruk dan gizi kurang,” ungkap Dorotea. 

Melengkapi penyuluhan dan pelayanan kesehatan, paket gizi berupa makanan juga didistribusikan ke warga. Dialog dengan pemerintah setempat juga dilakukan agar program ini dapat berjalan dengan lancar dan gizi masyarakat, khususnya anak, dapat terpantau dengan baik.

Program yang ACT gulirkan ini berbasis kegiatan posyandu di beberapa titik di Kabupaten Ende. Diharapkan, 23 Posyandu di Ende dapat menjadi pionir dalam pemberantasan gizi buruk dan gizi kurang di kabupaten yang masuk ke provinsi NTT. []


Bagikan