Berderma Ilmu Agama dari Balik Bilik Bambu

Kediaman Ahmad Safei dan keluarganya hanya bangunan berbilik bambu yang kurang layak huni. Begitu pula dengan bangunan majelis yang ia dirikan. Dari balik bilik bambu yang kurang layak inilah, Safei berderma ilmu agama untuk anak-anak di lingkungan rumahnya.

Berderma Ilmu Agama dari Balik Bilik Bambu' photo

ACTNews, PANDEGLANG  Sebuah bangunan panggung dengan dinding bilik bambu berdiri. Tak rapat dindingnya, masih banyak celah dari anyaman bambu. Bahkan, di beberapa sisi terdapat lubang besar yang membuat seisi ruangan dapat terlihat dari luar. 

Bangunan panggung dengan ukuran sekitar 5x2 meter itu ialah majelis atau tempat mengaji anak-anak milik Ahmad Safei, warga Pasirkadu. Letaknya persis di depan kediaman Safei, lebih kurang 15 kilometer dari Pasar Panimbang, Kabupaten Pandeglang. Tepatnya di Kampung Karya Nyata, Desa Pasirkadu, Kecamatan Sukaresmi, Pandeglang

Majelis itu berdiri sejak tahun 2015, dibangun dari bantuan lembaga swadaya masyarakat. Empat tahun sudah majelis itu berdiri, hingga kini belum pernah tersentuh renovasi sama sekali. Akibatnya, lubang menganga di beberapa sisi.

Sebuah lampu menjadi satu-satunya sumber penerangan di kala malam. Agak remang, namun tak menyurutkan semangat belajar agama anak-anak di Kampung Karya Nyata yang memulai mengaji setelah azan magrib berkumandang. Sekitar satu hingga dua jam mereka belajar, dengan penerangan seadanya.


Safei menuturkan, ia sudah mengajar mengaji anak-anak kampung sejak pindah ke Kampung Karya Nyata pada 2003. Selama belasan tahun, ia berderma ilmu agama untuk anak-anak sekitar rumahnya.

Sebelum berdirinya bangunan majelis yang sekarang ini, Safei mengajar mengaji anak-anak di rumahnya sendiri. Tak jauh berbeda dengan kondisi mejelis sekarang, rumah Safei sendiri hanya berdinding bilik bambu. Penerangan seadanya, bahkan alasnya pun hanya tanah yang ditutup tikar.

“Sebelum tahun 2003, saya tinggal di dalam hutan sana. Tapi disuruh sama kepala desa pindah ke dalam kampung. Di hutan sana saya juga mengajar anak-anak tetangga mengaji. Memang jumlahnya tak sebanyak di sini, tapi tujuan saya memang hanya untuk berbagi,” ungkap Safei, Kamis (12/9).

Rumah dan majelis yang dikelola Safei kini dalam kondisi kurang layak huni. Bilik bambu yang menjadi dinding tak pernah diganti sama sekali sejak berdiri. Atapnya dari daun sagu, dengan tanah sebagai lantai. Di rumah Safei tak ada kamar mandi. Untuk kebutuhan mencuci dan mandi, keluarga Safei harus berjalan kaki lebih kurang 500 meter menuju sungai yang melintas di desanya.

Keterbatasan ekonomi menjadi alasan. Safei bekerja sebagai buruh tani saat lahan persawahan masuk masa tanam atau panen. Selain itu, jika ada yang membutuhkan tenaganya sebagai buruh bangunan, ia mengambil kesempata bekerja itu. “Sehari paling dapat uang 50 sampai 70 ribu (rupiah) dari jadi buruh tani atau kuli. Saya enggak meminta tarif untuk mengajar ngaji. Mereka semua belajar agama di sini gratis,” jelas Safei.


Asap mengepul dari dapur rumah Safei, Kamis (12/9) siang itu. Istrinya sedang memasak untuk makan siang keluarga. Selain tak adanya kamar mandi, Safei juga tak memiliki kompor gas. Proses memasak mengandalkan kayu sebagai bahan bakar. Tiap pagi Safei menuju kebun karet milik keluarganya. Sebelumnya, ia meminta izin kepada sang pemilik untuk mengambil kayu sebagai bahan bakar memasak.

Biasanya, setelah mencari kayu bakar, Safei bergegas ke sungai untuk mengambil air. Perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki melewati pematang sawah. “Pagi dan sore ambil airnya. Kalau kemarau gini bisa ambilnya pakai motor karena sawah kering dan enggak digarap. Kalau musim hujan sawah ditanami, jadi harus jalan kaki,” kata Safei.

Dalam waktu dekat ini, kediaman Safei beserta mejelis tempatnya mengajar agama akan segera diperbaiki. Aksi Cepat Tanggap (ACT) melalui program Mobile Social Rescue (MSR) akan merenovasi bangunan itu. Andine dari Tim MSR-ACT mengatakan, pekan kedua September ini timnya sedang mencari pekerja bangunan yang akan mengerjakan pembangunan kediaman Safei dan keluarganya. Selain itu, pencarian serta pengiriman material bangunan akan dilakukan secepatnya. “Selain rumah Ustaz Safei, masih ada beberapa rumah lagi yang segera akan dibangun ACT di Pandeglang ini,” jelasnya, Kamis (12/9). []

Bagikan