Bergerak dan Bangkit Meski Kondisi Sedang Sulit

Memang sulit untuk bergerak di masa pandemi. Namun Muhammad Yusuf Misbah atau Gus Yusuf selaku Sekretaris Jenderal (Sekjen) YP3I dan Gema Petani selalu teringat nasihat bahwa bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Tinggal bagaimana cara manusia bisa bangkit dan menemukan kemudahan tersebut.

Bergerak dan Bangkit Meski Kondisi Sedang Sulit' photo
Santri bergotong royong mengangkut Air Minum Wakaf di Pondok Pesantren Riyadlul Jannah di Kelurahan Ledok, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur. Gotong-royong menjadi salah satu hal penting bagi masyarakat dalam menghadapi pandemi ini. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, MOJOKERTO – Banyak yang menanti pandemi segera selesai. Pasalnya, cara berinteraksi dan aktivitas yang berubah drastis sejak beberapa bulan lalu membuat masyarakat kesulitan sampai sekarang. Mulai dari secara kesehatan, ekonomi, permasalahan sosial, dan lain sebagainya.

Melihat hal ini, Muhammad Yusuf Misbah atau Gus Yusuf selaku Sekretaris Jenderal (Sekjen) YP3I dan Gema Petani selalu teringat nasihat ayahnya. Ayahnya, KH Mahfudz Syaubari, MA sebagai pengasuh Pondok Pesantren Riyadlul Jannah di Kelurahan Ledok, Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, sering menuturkan makna dari Surat Al-Insyirah yang pas dengan kondisi saat ini.

“Saya terus menanamkan dalam hati dawuhnya guru dan orang tua saya, KH Mahfudz Syaubari, kondisi ini adalah kondisi susah. Tapi kita tidak boleh terus berdiam diri. Inna ma'al usri yusra. Artinya bersama dengan kesusahan ada kemudahan. Bersama, bukan setelah kesusahan itu ada kemudahan. Artinya apa? Allah sudah menyiapkan kemudahan untuk kita. Maka dari situ, kita harus bangkit dengan semangat 'Bangkit Bangsaku',” semangat Gus Yusuf ketika ditemui Sabtu (17/10) lalu di Pondok Pesantren Riyadlul Jannah.

Ia juga menekankan pentingnya untuk terus berusaha, namun di sisi lain tetap menjaga kesehatan. “Jangan kita ketakutan sehingga berdiam terus di rumah, tapi jangan kita juga terlalu berani tanpa harus hati-hati. Terus bagaimana? Ya ayo, kita tetap berkarya, tetap bekerja. Tapi juga harus tetap hati-hati, tetap harus minta juga pertolongan dari Allah SWT. Pandemi ini harus kita jadikan pelajaran untuk dicari solusi,” ajak Gus Yusuf.


Gus Yusuf sedang menjelaskan pelajaran-pelajaran yang didapat dari pandemi. (ACTNews/Reza Mardhani)

Gus Yusuf pun kembali mendaraskan ayat-ayat dari Surat Al-'Asr. Ada 4 nasihat ayahnya dari surat tersebut menurutnya. Bahwa manusia itu sedang dalam kerugian. Apalagi jika hanya berdiam diri menunggu pandemi hilang. Tetapi tidak rugi bagi mereka orang-orang yang punya komitmen, mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam hidupnya, sering bersinergi, dan tahan uji alias sabar.

“Itu yang tidak akan merugi. Maka keadaan seperti ini jangan menjadikan kita ini semakin pesimis dan jauh dari Allah. Ini pelajaran, kita harus lebih dekat dengan Allah, kita harus lebih dekat dengan keluarga, kita harus lebih dekat dengan masyarakat. Kalau kemarin kita punya satu dimakan sendiri, kita sekarang punya satu dimakan orang lima. Tidak ada masalah. Itulah pelajaran yang kita petik dari pandemi ini. Sekarang sudah tidak waktunya untuk ‘saya yang paling bagus, saya paling kenyang sendiri’ tapi sekarang waktunya tolong-menolong,” jelasnya.

Gus Yusuf berpendapat bahwa saat ini gerakan urunan untuk masyarakat sangat diperlukan. Karena bagaimanapun, masalah yang rumit akan lebih ringan ketika dipecahkan bersama-sama. “Dan saya yakin, ruh kita itu sudah dikelompok-kelompokkan. Misalnya ini ruhnya orang-orang yang sering menolong orang. Maka ketika kita ketemu pun, sudah langsung bisa menyambung dan bersinergi. Jadi kalau seberapa perlu, perlu banget (gerakan urunan). Kalau dipersenkan mungkin 10.000% perlunya ini. Karena kita itu makhluk sosial. Kita jangan merasa, ‘saya yang paling besar’ enggak boleh. Kita masuk surga bareng-bareng. Kalau teman-teman di ACT masuk surga terlebih dahulu, cari saya. Sama-sama jadi relawan kemanusiaan, kan,” selorohnya.


Untuk itu, ia pun mengajak para dermawan untuk mendukung gerakan serupa yang telah diinisiasi oleh ACT, yakni gerakan "Bangkit Bangsaku".
Gerakan yang dipelopori oleh ACT atau gerakan 'Bangkit Bangsaku' ini, harus kita dukung bersama. Di tengah keadaan krisis seperti ini, kita tidak boleh malah pesimis. Kita harus bangkit,” ajak Gus Yusuf.

Gerakan “Bangkit Bangsaku” akan fokus pada penyelamatan tiga sektor vital yang kini sangat terdampak pandemi, yakni sosial, ekonomi, dan kesehatan melalui berbagai programnya. “Bangsa kita butuh disemangati sebuah gerakan, penyadaran terhadap berbagai permasalahan, pembuka jalan solusi dan implementasi nyata, serta penjaga optimisme tetap menyala. Seluruh aksi ini membutuhkan kolaborasi besar berbagai elemen masyarakat. Semua anak bangsa diundang kontribusinya, menyiarkan semangat dan ide untuk bangkitkan bangsa. Bersama, kita akan gulirkan bola salju kepedulian kita untuk Indonesia,” tegas Ibnu Khajar selaku Presiden ACT pada peluncuran gerakan ‘Bangkit Bangsaku’ pada Rabu (30/9) ini. []