BERISI Sapa Santri Terdampak Gempa di Lombok Barat

Pekan ini, program Beras untuk Santri Indonesia (BERISI) hadir untuk santri Pesantren Al Rahman di Desa Medas, Kelurahan Gunung Sari, Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat, NTB. Pascagempa Lombok Agustus 2018 lalu, pesantren ini membebaskan biaya pendidikan bagi santri-santrinya.

BERISI Sapa Santri Terdampak Gempa di Lombok Barat' photo
Santri Pesantren Al Rahman Nahdlatul Wathan menerima beras dari para dermawan. Kebaikan itu diimplementasikan AKsi Cepat Tanggap (ACT) melalui program Beras untuk Santri Indonesia (BERISI). (ACTNews/Adi Achmad)

ACTNews, LOMBOK BARAT – Beras untuk Santri Indonesia (BERISI) kini hadir untuk santri Pesantren Al Rahman Nahdlatul Wathan di Desa Medas, Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat. Pondok Pesantren yang didirikan oleh pasangan suami istri Sagirudin dan Zaenab ini memiliki 140 santri. Sebanyak 55 santridi tingkat tsanawiyah dan 85 lainnya menempuh pendidikan madrasah. 

Sagirudin tidak membebankan biaya apa pun kepada santri-santrinya. Sebelum gempa Lombok terjadi pada 2018 lalu, siswa MTs dikenakan biya pendidikan per bulan Rp 50 ribu. ”Setelah gempa, kondisi ekonomi orang tua para santri serba kekurangan, jadi tidak lagi dipungut biaya. Sekarang untuk kebutuhan sandang maupun pangan, saya dan istri yang harus berusaha mencari. Kadang ada dermawan yang mampir memberikan bantuan. Kalau tidak ada, saya harus berusaha mencari untuk biaya kebutuhan sehari-hari,” cerita Sagirudin.

Dari 140 santri, 17 santri yang berasal dari luar Kecamatan Gunung Sari berasrama di pesantren. Sementara santri lainnya yang berumah dekat pesantren memilih tinggal di rumah. 

Kepala Cabang ACT NTB Lalu Muhammad Alfian datang dan menyerahkan langsung bantuan beras kepada pengurus dan santri Pondok Pesantren Al Rahman NW Medas. Alfian menjelaskan, Pesantren Al Rahman NW menjadi salah satu pesantren yang sesuai dengan kriteria program BERISI. “Santri-santri di Pesantren Al Rahman ini tidak dipungut biaya pendidikan, fasilitas pesantren pun masih sederhana. Murid-murid masih tinggal di pondok sederhana. Mereka umumnya datang dari keluarga prasejahtera dari berbagai daerah di NTB,”  kata Alfian.

Sejak diluncurkan pada 22 Oktober 2019 lalu, program BERISI telah mendistribusikan hingga 55 ton beras ke berbagai pesantren di Indonesia. Puluhan ton beras ini diperuntukan untuk memenuhi pangan santri-santri, khususnya mereka yang belajar di pesantren pedalaman daerah. Pendistribusian beras menjangkau 22 provinsi yang meliputi 51 kota/kabupaten.

Hingga kini, ACT terus mengajak masyarakat dermawan untuk membantu para santri melalui program BERISI di berbagai kalangan. Sahabat Dermawan dapat berdonasi langsung melalui tautan indonesiadermawan.id. Sehingga, kolaborasi ini menjadi rantai kebaikan positif yang berdampak besar untuk para mereka yang membutuhkan.[]