Berjualan Nasi Kuning, Sarifah Sambung Kehidupan Ketiga Anaknya

Covid-19 turut berdampak pada menurunnya hasil penjualan nasi kuning Sarifah. Belum lagi suaminya baru saja wafat pada Idulfitri lalu, menjadikan Sarifah orang tua tunggal bagi ketiga anaknya. Namun, Sarifah tetap berjalan tegak dan melanjutkan usaha nasi kuning dengan modal yang minim.

Berjualan Nasi Kuning, Sarifah Sambung Kehidupan Ketiga Anaknya' photo
Sarifah sedang menjaga dagangannya seorang diri. (ACTNews)

ACTNews, MAKASSAR – Meski keuntungannya tak banyak, Sarifah menikmati pekerjaannya. Dorongan untuk bangun pukul 3 dini hari pun ia jalani untuk memasak nasi kuning. Biasanya, nasi kuning Sarifah ludes hanya dalam 2 jam. Keuntungan yang diperoleh perempuan 44 tahun dari Makassar ini diperuntukkan untuk kebutuhan sehari-hari dirinya beserta anaknya.

“Saya tidak perlu untung banyak, selama bisa bertahan hidup dan membiayai sekolah ketiga anak saya, saya sudah bersyukur,” kata Sarifah pada Kamis (18/6) lalu.

Sekitar 8 tahun lamanya Sarifah berjualan nasi kuning bersama sang suami. Namun Covid-19 mengubah pendapatan usaha Sarifah secara drastis. Pelanggan yang selama ini sering memborong nasi kuningnya, di mana kebanyakan mahasiswa dan pekerja kantoran, kini banyak yang mudik. Berbagai aktivitas pun dihentikan untuk sementara waktu. Termasuk aktivitas proses belajar mahasiswa di kampus. Dampaknya adalah penurunan pendapatan harian Sarifah.

15 liter nasi kuning biasanya akanSarifah masak untuk para pelanggan itu. Semenjak mereka semua libur, dia hanya mampu membuat nasi kuning 8-10 liter. Itu pun kadang tidak habis. “Pernah sekali, waktu di masa Covid-19 ini tidak ada yang membeli dagangan saya seharian,” kutipnya.


Sarifah yang sedang melayani pembeli. (ACTNews)

Belum lagi kesulitan berlalu, suaminya sekaligus temannya dalam berdagang bertahun-tahun, wafat secara mendadak. Suaminya berpulang sesaat sebelum menunaikan salat zuhur di masjid depan rumahnya. Pada saat melaksanakan  wudu, penyakit jantungnya kambuh. Tepat di hari raya Idulfitri 1441 H, Sarifah jadi ibu tunggal.

Diuji bertubi-tubi, patah arang tetap bukan pilihan Sarifah. Hidup bagaimanapun tetap berjalan, ia mesti tetap berjuang untuk anak-anaknya meskipun seorang diri. Ia bertekad melanjutkan cita-cita suaminya yang sewaktu masih hidup ingin menguliahkan anak sulungnya di jurusan arsitektur, melihat bakat dan minat si sulung.


Berjualan nasi kuning tetap menjadi andalannya saat ini demi mimpi itu. Meskipun modal minim, Sarifah mengaku pantang berutang. Itu sudah menjadi komitmennya bersama mendiang suami. Sang suami yang dulunya bekerja di bengkel memang dikenal sebagai sosok yang tidak mau berutang semasa hidupnya.

Untuk membantu aktivitas dagangnya tetap berjalan, Aksi Cepat Tanggap (ACT) melalui program Sahabat Usaha Mikro Indonesia (UMI) memberikan bantuan modal kepada Sarifah. Ia bercerita kepada Tim ACT Sulawesi Selatan dengan hadirnya tambahan modal ini, dia berharap jualannya berjalan lebih baik lagi bahkan ia ingin memiliki karyawan.

“Dia tidak memilih jalan ribawi untuk menghidupi istri dan anak-anaknya. Dengan bantuan modal usaha ini, kita mendengar harapan Ibu Sarifah yang ingin mengelola jualannya dengan lebih baik, termasuk dengan menambah karyawan untuk membantunya memasak,” kata Koordinator Program ACT Sulawesi Selatan Andi Syurganda Haruna. []


Bagikan