Berkah Iduladha bagi Pengungsi Rohingya

Kutupalong menjadi wilayah pengungsian Rohingya terbesar di Cox’s Bazaar. Di Kamp pengungsian itu, lebih dari 5000 pengungsi menikmati daging kurban Global Qurban tahun 2018 lalu.

ACTNews, COX’S BAZAAR – Gema takbir mengudara tanpa pengeras suara di Kamp Pengungsian Rohingya Kutupalong, Distrik Cox’s Bazaar, Bangladesh. Kala itu di Bangladesh, Iduladha jatuh pada Selasa, 21 Agustus 2018. Hari itu kemudian menjadi salah satu hari yang paling membahagiakan bagi warga Rohingya.

Fareed, mitra Global Qurban di Cox’s Bazaar mengatakan, pengungsi Rohingya di Kamp Kutupalong hidup dengan kesediaan pangan terbatas. Sebab itu, Iduladha menjadi berkah bagi mereka karena bisa menikmati hidangan daging nan bergizi. “Makanan sangat terbatas dan keadaan tidak memungkinkan mereka untuk bekerja. Sebab itu, mendukung pangan pengungsi Rohingya menjadi sangat penting,” terang Fareed.

Sucita Ramadinda dari Global Humanity Response (GHR) - Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengatakan, tahun 2018  lalu, 20 ekor sapi kurban amanah masyarakat Indonesia disembelih untuk para pengungsi Rohingya di Cox’s Bazaar. “ACT juga menyembelih 15 ekor sapi untuk Rohingya di Myanmar,” lapor Sucita.


Sofi Hosain Dano (62), pengungsi di Kamp Kutupalong amat bersyukur mendapat sekantung daging kurban di Lebaran kali ini. “Saya sangat berterima kasih kepada ACT dan orang-orang Indonesia yang telah mendukung kami,” kata Sofi. Bagi Sofi dan keluarga, dapat menikmati daging kurban adalah berkah tersendiri. Setelah melarikan diri dari persekusi militer Myanmar Agustus 2017 lalu, Sofi sehari-hari tidak bekerja dan tidak mendapat pemasukan.

Kebahagiaan juga dirasakan Khatijah (56). Memperoleh daging kurban memberi Khatijah secercah kebahagiaan. Ia merasa masih memiliki saudara yang mengingatnya. Selama ini, kesedihan masih merundung Khatijah yang kehilangan anak laki-lakinya pada peristiwa dugaan pembantaian etnis Rohingya, Agustus 2017 silam.


Melihat urgensi kebutuhan pangan di kalangan pengungsi Rohingya, ACT berikhtiar lebih memasifkan kurban tahun ini. “Insyaallah tahun ini kita masih akan menyalurkan donasi kurban untuk Rohingya di Myanmar dan di Kamp pengungsian Bangladesh,” terang Sucita, Kamis (4/7).

PBB menyatakan Rohingya sebagai etnis yang paling dipersekusi saat ini. Belum ada titik terang terkait masa depan pengungsi Rohingya, sementara jumlah mereka semakin bertambah. Fareed mengatakan, bahan makanan dan obat-obatan semakin menipis di Kamp Kutupalong yang semakin padat. “Dari udara, kamp pengungsian Kutupalong tampak seperti labirin yang dibangun di lereng bukit,” Fareed menutup cerita.[]