Berkah Sumur Wakaf di Negeri Tanduk Afrika

Hampir dari setengah populasi Somalia kesulitan mendapatkan sanitasi yang layak. Ketiadaan air bersih ini kerap mengarah ke berbagai macam penyakit dan masalah lainnya. Global Wakaf - ACT mencoba mengatasi masalah ini dengan membangun Sumur Wakaf pertama di negeri Tanduk Afrika itu.

Masyarakat Gubadlay, Kota Mogadishu, sedang bekerja sama membangun Sumur Wakaf pada Senin (1/6). (ACTNews)

ACTNews, MOGADISHU – Warga di Gubadlay, Mogadishu, bahu-membahu. Tak peduli panas matahari yang menyengat hari itu, mereka terus menggali calon Sumur Wakaf yang diinisiasi oleh Global Wakaf – ACT di salah satu titik di negeri Tanduk Afrika itu.

“Alhamdulillah, Sumur Wakaf pertama di Somalia dari Sahabat Dermawan saat ini sedang dalam proses pembangunan. Sumur Wakaf ini dibangun di daerah Gubadlay, di salah satu daerah yang cukup banyak warga prasejahteranya, dekat Mogadishu. Mohon doa serta dukungannya dari sahabat dermawan semua, semoga Sumur Wakaf ini segera selesai dan dapat dirasakan manfaatnya oleh saudara muslim kita di sana,” kata Andi Noor Faradiba dari Tim Global Humanity Response – ACT pada Senin (1/6) ini.


Sebagian besar dari mereka adalah perantau yang sedang mencari nafkah di Mogadishu, yang merupakan ibu kota dari Somalia. “Sebagian besar dari mereka adalah masyarakat yang pindah dari desa mereka yang kering dan lahan yg tidak produktif. Kemudian mereka mencoba peruntungan pekerjaan di sekitar Mogadishu,” jelas Faradiba.

Somalia merupakan negara yang beriklim tropis dan diliputi oleh gurun yang besar nan gersang. Karena itulah, di sebagian tempat Somalia mengalami kekeringan dan banyak yang kekurangan air bersih. Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) mencatat, hanya 52% populasi di Somalia yang memiliki akses ke pasokan air dasar.


Seorang perempuan mengumpulkan air untuk digunakan di rumah mereka di kamp IDP Bakassi, di Maiduguri, ibukota negara bagian Borno di Nigeria timur laut. (UNICEF/Abubakar)

Regulasi terbatas dari pemasok air swasta sering menyebabkan harga air menjadi mahal, dan memaksa keluarga untuk mengambil air dari jauh dan dari sumur terbuka yang tidak aman konsumsi. Buang air besar sembarangan adalah praktik umum dan 28% dari populasi masih buang air besar sembarangan.

Tanpa akses ke air bersih, toilet dan sanitasi yang baik, risiko tertular penyakit, seperti diare, diare berair akut, kolera, dan infeksi pernapasan menjadi cukup tinggi. Dalam tiga tahun terakhir, lebih dari 900 orang di Somalia, telah meninggal karena kolera dan mayoritas dari mereka adalah anak di bawah usia 5 tahun. Ketika perempuan melahirkan dalam kondisi yang seperti ini, kehidupan para ibu dan bayi juga dipertaruhkan.

Faradiba berharap pembangunan Sumur Wakaf ini segera selesai, sehingga warga Gubadlay bisa menikmati fasilitas sanitasi yang layak. “Kita berusaha agar Sumur Wakaf ini dapat selesai secepatnya. Semoga hal tersebut dapat tercapai sehingga masyarakat di Gubadlay dapat menikmati air bersih sesegera mungkin,” harap Faradiba. []