Berkat Sumur Wakaf, Irfan Tak Lagi Menumpang Mandi ke Tetangga

Irfan (40) tak perlu lagi hilir mudik ke rumah tetangganya untuk meminta air guna kebutuhan sehari-hari. Hadirnya Sumur Wakaf Keluarga di rumah Irfan seakan menjadi solusi, Bahkan bukan hanya untuk keluarganya sendiri, tapi juga para tetangga yang sewaktu-waktu membutuhkan air juga.

Berkat Sumur Wakaf, Irfan Tak Lagi Menumpang Mandi ke Tetangga' photo
Irfan di samping mesin yang menyedot air dari Sumur Wakaf Keluarga yang ada di sebelah rumahnya. Sumur seakan menjadi keberkahan bagi Irfan setelah bertahun-tahun harus meminta air ke tetangganya. (ACTNews)

ACTNews, SIGI Tak henti-hentinya Irfan (40), warga Desa Karawana, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi mengucapkan kalimat syukur. Pasalnya, setelah bertahun-tahun menempati rumah, baru kali ini bisa menikmati fasilitas air di rumahnya sendiri. Bantuan Sumur Wakaf Keluarga mempermudah ia untuk mendapatkan air, khususnya mandi, mencuci, dan memasak.

Selama ini, Irfan dan keluarga kerap dibuat repot untuk memenuhi kebutuhan air karena tak adanya sumber air dari rumahnya sendiri. Pasalnya, untuk membangun sumur air butuh biaya yang cukup besar dan belum terjangkau bagi keluarga Irfan. Irfan pun bertahan dengan kondisi seadanya dan memilih menumpang di kediaman tetangganya untuk keperluan air.

“Tapi sekarang sudah ada sumur, jadi enggak perlu merepotkan tetangga lagi. Selain sumur dan mesin airnya, saya juga punya bak baru. Saya enggak mau menikmati air sari sumur wakaf ini sendirian, siapa pun yang membutuhkan air bisa mengambilnya,” ungkap Irfan, Kamis (25/6).

Sumur Wakaf Keluarga yang dibangun di kediaman Irfan ialah salah satu program dari Global Wakaf - ACTuntuk mengatasi permasalahan air di tengah masyarakat. Sumur Wakaf Keluarga ini diperuntukkan bagi keluarga prasejahtera yang selama ini mengalami krisis air bersih. Dengan begitu, keperluan air tak lagi menjadi kendala.

Selama menumpang ke tetangganya untuk kebutuhan air, Irfan mengaku tak pernah dimintai iuran untuk listrik maupun air oleh tetangganya. Sebagai tanda terima kasih, tiap kali ada hasil kebun yang melimpah, Irfan membaginya ke tetangga. Akan tetapi, tak setiap panen hasil kebun garapan Irfan melimpah. Hal ini membuat tak jarang Irfan merasa tidak enak ke tetangganya karena selalu merepotkan.

Tak adanya sumber air untuk kebutuhan sehari-hari sudah Irfan jalani sejak bertahun-tahun silam, bahkan sebelum adanya gempa bermagnitudo 7,4 yang melanda Sulteng 2018 lalu. Pascabencana, kehidupan Irfan dengan kebutuhan airnya semakin sulit, khususnya untuk pertanian. Irigasi Gumbasa yang hancur terkena likuefaksi memaksa lahan garapannya tak tersuplai air. Keadaan ini memaksanya beralih profesi menjadi butuh serabutan.

Selain membangun Sumur Wakaf Keluarga bagi keluarga prasejahtera, Global Wakaf juga membangun Sumur Wakaf Pertanian. Sumur tersebut menjadi salah satu solusi untuk kekeringan jangka panjang setelah terputusnya irigasi akibat likuefaksi. "Sumur Wakaf Pertanian dibangun di lahan-lahan pertanian milik warga, diharapkan sumur ini bisa mengembalikan produktivitas lahan pertanian,” jelas Kepala Cabang Global Wakaf - ACT Sulteng Nurmarjani Loulembah, atau yang akrab disapa Nani, Sabtu (6/6) lalu.[]


Bagikan