Berkunjung ke ACT, Dar-Us-Salaam Ajak Dukung Pembangunan Islamic Center di Maryland

Berkunjung ke ACT, Dar-Us-Salaam Ajak Dukung Pembangunan Islamic Center di Maryland

ACTNews, JAKARTA - Pew Research Center menyodorkan data menarik mengenai perkembangan Islam di dunia. April lalu, pusat kajian trend sosial dunia ini memproyeksikan Islam sebagai agama yang berkembang paling pesat di dunia. Berdasarkan survei yang mereka lakukan, penduduk muslim dunia diperkirakan melonjak sebesar 70% selama kurun waktu 2015-2060. Muslim diprediksikan akan berjumlah sekitar tiga miliar jiwa pada 2060.

Prediksi trend sosial tersebut bukanlah sekadar proyeksi tanpa bukti pasti. Islam nyatanya tengah berkembang pesat di berbagai belahan dunia. Jumlah komunitas muslim semakin bertambah, terbukti dari banyaknya rencana maupun proses pembangunan sarana ibadah bagi muslim seperti masjid dan Islamic Center. Di Eropa saja, geliat perkembangan muslim mulai terlihat. Komunitas-komunitas muslim dari berbagai negara terus berikhtiar membangun masjid berikut Islamic Center yang mampu memadai kebutuhan ibadah mereka. Muslim di London, Utrecht, dan Sevilla merupakan beberapa di antaranya.

Dari benua Amerika, perkembangan muslim ini juga semakin nampak. Adalah komunitas muslim di College Park, Maryland, Amerika Serikat, yang dalam dua dekade terakhir ini menunjukkan pertambahan populasi yang signifikan. Muslim dari berbagai negara di dunia memadati negara bagian seluas 32.160 km2 ini, termasuk muslim yang berasal dari Indonesia.

Fakta menarik ini disampaikan oleh Syekh Safi Khan, seorang ustaz sekaligus Ketua Umum Yayasan Dar-Us-Salaam, Maryland, dalam kunjungannya ke kantor pusat ACT pada Rabu (19/7). Di wilayah College Park sendiri, Safi Khan mengungkapkan setidaknya ada 100 ribu muslim dari puluhan negara. Seluruh komunitas muslim tersebut membaur dan membentuk satu komunitas besar di bawah payung Yayasan Dar-Us-Salaam.

“Kami mulai membentuk komunitas muslim di College Park sekitar awal 1990an. Dahulu kami ingin sekali menghidupkan Islam di Amerika. Kami mulai itu semua dengan membangun sebuah institusi pendidikan Al Quran. Lambat laun, kami membangun sekolah, masjid serta Islamic Center yang memfasilitasi seluruh muslim di College Park,” papar Safi Khan.

Dua dekade berlalu, Dar-Us-Salaam bertransformasi menjadi satu entitas yang mampu menghidupkan cahaya Islam di Pesisir Timur Amerika. Hafiz-hafiz berprestasi lahir, kegiatan-kegiatan Islami dan pelayanan sosial pun tak pernah absen mewarnai Kota College Park. Hal ini menarik banyak muslim dari berbagai negara bagian lainnya untuk berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan keagamaan dan sosial tersebut.

Diakui Safi, kompleks Dar-Us-Salaam seluas empat hektar di mana masjid, Islamic Center, serta sekolah berdiri tak mampu lagi menampung beragam aktivitas keagamaan bagi muslim di sana.

“Jumlah muslim di sini meningkat luar biasa sehingga masjid dan Islamic Center kami tak lagi bisa membendung jemaah dan berbagai kegiatan yang ada. Oleh karena itulah, kami sangat membutuhkan bangunan baru yang mampu memfasilitasi kebutuhan ibadah kami,” ungkapnya.

Safi melanjutkan, pihaknya terus berikhtiar untuk meraih dukungan dari berbagai muslim di dunia untuk merealisasikan impian tersebut. Kunjungan dirinya dan beberapa perwakilan Dar-Us-Salaam ke ACT pun menjadi bagian dari ikhtiar itu.

Membersamai kehadiran Dar-Us-Salaam, Presiden ACT Ahyudin mengungkapkan apresiasinya atas apa yang telah dibangun oleh komunitas muslim di Maryland, AS. Sebuah rumah peribadahan yang terintegrasi dengan sistem pendidikan Islam mampu melahirkan generasi-generasi muslim yang tangguh.

“Apa yang telah diikhtiarkan olen Dar-Us-Salaam sangatlah baik. ACT tentu mendukung niat baik teman-teman untuk membangun peradaban Islam yang lebih baik lagi di Amerika. Seperti kami mendukung program serupa di Sevilla. Semakin banyak pihak yang mendukung program ini, semakin cepat terwujud,” ungkap Ahyudin.

Mengetahui kiprah ACT di bidang kemanusiaan dan pemberdayaan umat, Safi Khan turut mengapresiasi hal ini. Baginya, masalah-masalah kemanusiaan di berbagai penjuru dunia, yang biasa menargetkan umat muslim, merupakan “api” yang sengaja dipantik oleh pemecah belah persatuan umat.

Api konflik menyebar, seperti konflik Suriah, Rohingya, Yaman, kelaparan di Somalia, hingga penutupan Masjid Al-Aqsa yang baru-baru ini terjadi. Hal ini, menurutnya, membuat konsentrasi umat terpecah hingga tak sempat membangun kekuatan diri.

“Umat muslim perlu memahami satu hal yang penting. Di tengah segala masalah kemanusiaan yang terjadi, kita juga harus membangun kekuatan dari dasar untuk melawan itu semua. Dan kami, Dar-Us-Salaam mencoba membangun kekuatan itu mulai semua murid yang kami ajar.

Kami didik mereka dengan pengetahuan Al Quran dan sunnah hingga kuat imannya. Kami didik mereka dengan beragam ilmu pengetahuan dan skill. Sehingga, ketika mereka lulus, mereka dapat mengaplikasikan ilmu dan skill mereka untuk menolong umat secara luas,” tegas Safi.

Dar-Us-Salaam, melalui Islamic Center yang terpadu, optimis akan membangun peradaban muslim yang tangguh. Muslim yang bersatu dan kuat akan mampu meredam “api konflik” yang kini berkobar di berbagai belahan dunia.

“Insya Allah, dengan niat yang baik ini, saya rasa umat muslim dunia juga akan mendukung ikhtiar Dar-Us-Salaam,” Ahyudin menanggapi. []

Tag

Belum ada tag sama sekali