Bersama ACT, SHARP Dorong Kemandirian Pangan dari Sektor Pertanian

Bekerja sama dengan Aksi Cepat Tanggap (ACT), SHARP berikhtiar untuk mendorong kemandirian pangan nasional melalui program SHARP MAPAN di Karawang, Jawa Barat. Pada kolaborasi ini, SHARP dan ACT mampu menghasilkan hingga 82 ton beras dari para petani yang telah diberdayakan.

sharp mapan act
ACT bersama SHARP bekerja sama mendorong kemandirian pangan di Indonesia melalui program SHARP MAPAN. (ACTNews/Rizki Febianto)

ACTNews, KARAWANG – Kerja sama kembali dilakukan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dengan SHARP untuk mendorong kemandirian pangan nasional dari sektor pertanian melalui program SHARP MAPAN (Membina Masyarakat Produsen Pangan Mandiri). Lahan pertanian di Desa Gembongan, Kecamatan Banyusari, Karawang, Jawa Barat dipilih menjadi tempat dilaksanakannya program kali ini.

Andry Adi Utomo, National Sales Sr. General Manager SHARP menjelaskan, SHARP MAPAN merupakan program pemberdayaan untuk seluruh petani di Indonesia. Program ini digaungkan untuk memastikan bahwa setiap petani di Indonesia dapat hidup sejahtera dan mandiri. Andry menyebut, program ini memberikan modal ke para petani dalam bentuk bibit, pupuk, dan sarana produksi tani lain.

"Beberapa tujuan SHARP MAPAN yaitu untuk menjamin ketersediaan pangan khususnya beras, menjamin ketersediaan modal produksi padi, mengoptimalkan lahan tidur di desa untuk kembali produktif, serta menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi para penduduk desa," ujar Andry yang juga turut mengikuti proses panen padi pada Kamis (13/5/2022).

Dalam panen program SHARP MAPAN di Desa Gembongan, ACT bersama SHARP telah membeli 82 ton padi hasil panen para petani. Jumlah ini merupakan kumulatif dari aksi SHARP MAPAN tahap 1 yang dilaksanan Oktober 2021 dengan hasil panen sebesar 31 ton beras. 

Harga pembelian padi ini lebih tinggi ketimbang harga yang ditawarkan para tengkulak. Andry berharap, kegiatan ini menjadi langkah awal untuk mewujudkan kedaulatan pangan nasional.

"Alhamdulillah kerja sama Sharp dengan ACT di Desa Gembongan berjalan lancar. Padi sudah menguning, hasil panen juga melimpah. Semoga bantuan ini mampu memberikan solusi bagi keterbatasan pangan di masyarakat, maupun pemberdayaan ekonomi bagi produsen pangan sendiri," ucapnya.

Sri Eddy Kuncoro sebagai Presiden Global Wakaf-ACT menyebut, program pemberdayaan petani dari ACT telah hadir di 15 provinsi di Indonesia sejak diresmikan pada 2020 lalu. Selain bantuan materi, pendampingan pun turut diberikan Tim ACT dan SHARP selama proses produksi, termasuk pendampingan spritual.

Eddy juga menerangkan bahwa nantinya, gabah-gabah yang telah dibeli dari para petani, akan diolah menjadi beras berkualitas dan dikemas dalam kemasan 3 kilogram. "Beras-beras tersebut akan kami bagikan ke masyarakat membutuhkan di seluruh Indonesia melalui berbagai program yang digaungkan ACT, seperti operasi beras gratis, dan lain sebagainya," ucap Eddy.

"Di program ini, kita beli gabah para petani apapun kondisinya. Sehingga selain petani mendapat manfaat secara ekonomi, mereka juga bisa terhindar dari praktik riba jika menjualnya ke tengkulak," ujar Eddy.