Bersama Adik yang Gangguan Jiwa, Lansia Ini Tinggal di Rumah Tak Layak Huni

Rumah Patimah bersama sang adik yang gangguan jiwa sungguh tak layak huni. Tempat tinggal tersebut tak tersentuh renovasi karena keterbatasan ekonomi.

act tasikmalaya
Patimah saat melakukan pekerjaan membersihkan botol bekas. Untuk pekerjaan ini, ia diupah Rp5 ribu per hari. (ACTNews)

ACTNews, TASIKMALAYA – Atap miring serta dinding terbuat dari bilik kayu yang telah rapuh termakan usia dan berlubang menjadi tempat tinggal bagi Patimah (55) bersama sang adik. Sodik (46), yang mengalami gangguan jiwa sejak tujuh tahun lalu. Rumah yang berada di Kampung Kertasari, Margabakti, Cibeureum, Kota Tasikmalaya dan hanya bisa diakses dengan berjalan kaki ini bukan tak ingin direnovasi. Keadaan ekonomi yang terbatas memaksa mereka berdua bertahan.

Ketika hujan deras datang disertai angin kencanag, air kerap masuk dan membasahi seisi ruangan. Patimah pun sering tak berada di dalam rumah saat cuaca tak baik, ia mengungsi ke rumah tetangganya. Takut rumahnya roboh sewaktu-waktu menjadi alasan ia tak berani berteduh di rumah sendiri. Akan tetapi, untuk mengungsi ke rumah tetangga pun bukan perkarang gampang, usianya yang sudah sepuh dan mendampingi sang adik membuat ia sering mearasa kelelahan.

Sehari-hari, Patimah bekerja sebagai buruh pembersih botol bekas minuman yang dimiliki oleh pengepulnya. Ia bekerja dari jam 8 pagi sampai 4 sore dengan upah Rp5 ribu. Uang tersebut digunakannya untuk keperluan harian. Selain itu, setiap dua kali dalam sepekan, Patimah menjadi buruh cuci di rumah tetangganya. Sebelumnya, sejak ditinggal wafat suami, Patimah bekerja sebagai asisten rumah tangga. Namun, kecelakaan kerja membuat ia harus alih profesi, kakinya pun tak sempurna lagi, tak bisa dilipat ketika duduk.

Kondisi ini juga yang membuat Patimah tak memiliki pilihan untuk tempat tinggalnya. Ia membiarkan rumahnya lapuk termakan usia tanpa tersentuh renovasi.

Namun, kondisi rumah tersebut kini sudah sirna, berganti dengan hunian nyaman yang telah Aksi Cepat Tanggap (ACT) selesaikan pembangunannya beberapa waktu lalu. Melalui program Mobile Social Rescue, Patimah sekarang menempati rumahnya yang sudah direnovasi besar.

“Hatur nuhun (terima kasih) untuk semua yang sudah ikut membantu saya. Semoga Allah catat sebagai amal saleh dan dibalas dengan sebaik-baiknya balasan,” doa Patimah untuk dermawan.

Fauzi Ridwan dari tim Program ACT Tasikmalaya mengatakan, proses pembangunan rumah Patimah berjalan dalam beberapa pekan sebelum akhirnya sekarang sudah resmi ditempati. Selain Patimah, ACT Tasikmalaya juga tengah menyelesaikan pengerjaan rumah untuk lansia lainnya.

“Mohon doa serta dukungan dari seluruh dermawan untuk kesuksesan implementasi kebaikan ini,” harap Fauzi.[]