Bertahan di Tengah Pandemi dengan Usaha Kecil

Tak sedikit perempuan memiliki peran ganda. Selain mengurus rumah tangga, mereka juga menjalankan usaha skala kecil karena pendapatan ekonomi keluarga yang dirasa kurang.

Elmayanti sedang membakar bakso yang menjadi dagangannya. (ACTNews)

ACTNews, BATAM – Menjajakan bakso bakar menjadi keseharian Elmayanti (39) untuk membantu memenuhi kebutuhan harian keluarganya. Menggunakan gerobak sederhana, ia kumpulkan pundi-pundi rezeki. Perempuan asal Tanjung Uncang, Kecamatan Batu Aji, Batam  itu menjadikan usaha skala kecil bakso bakar sebagai pemenuh keluarga.

Sayang, pandemi Covid-19 membawa banyak perubahan bagi keluarga Elmayanti, khususnya perekonomian. Daya beli pelanggannya kini menurun, hal ini pun seiring dengan berkurangnya pendapatan bagi Elmayanti. Ekonomi keluarga ibu lima anak ini makin terpuruk ketika sang suami kini tak lagi bekerja dan beralih profesi menjadi pemulung semenjak wabah Corona.

Dagangan bakso bakar yang Elmayanti jajakan tak sekadar pemenuh kebutuhan sehari-hari keluarganya saja. Akan tetapi, perjuangannya itu juga sebagai modal pengobatan salah satu anaknya yang dinyatakan mengalami leukemia atau kanker darah.

”Corona gini pembeli berkurang, harga bahan baku juga naik. Tapi ya harus bertahan buat menuhin kebutuhan sehari-hari,” ujar Elmayanti kepada tim ACT Kepulauan Riau, Rabu (10/6).

Permodalan kini sangat diperlukan Elmayanti untuk terus bertahan berjualan di tengah pandemi Covid-19. Di samping itu, pengobatan bagi anaknya yang sedang sakit pun mendesak dilakukan. Keterbatasan dana selama ini yang menjadi kendala pengobatan anaknya serta mengembangkan usaha skala kecilnya ini.

Selain Elmayanti, pengusaha skala kecil yang kini mencoba terus bertahan di tengah pandemi ialah Baniyah (42). Penjaja jamu keliling asal Baloi Indah, Kecamatan Lubuk Baja, Batam ini selama pandemi Covid-19 harus rela merasakan berkurangnya pembeli. Di samping pembeli yang berkurang, di masa sulit seperti sekarang, bahan baku jamu Baniyah pun merangkak naik. Kenaikan bahan baku jualan Baniyah ada di angka Rp50 ribu - Rp100 ribu, sedangkan pendapatannya berkurang juga di angka Rp50 ribu - Rp100 ribu.

Usaha kecil yang dijalankan Baniyah membantunya untuk menggerakkan perekonomian keluarga. Sang suami saat ini sedang mengalami sakit paru-paru, dan orang tuanya pun menjadi tanggungan Baniyah.

Elmayanti dan Baniyah merupakan beberapa di antara para perempuan yang kini berjuang membantu perekonomian keluarga di tengah pandemi. Selain mereka, masih ada ribuan perempuan serupa, menjadi pelaku utama usaha skala kecil sambil mengurus rumah tangga.[]