Bertahan Hidup dengan Melukis

Bertahan Hidup dengan Melukis

Bertahan Hidup dengan Melukis' photo

ACTNews, PALU – Kini, hampir lima bulan pascagempa bumi, tsunami dan likuefaksi menghantam Sulawesi Tengah, tepatnya Palu, Sigi dan Donggala. Bencana besar tersebut meninggalkan dampak masif: ribuan orang meninggal dunia, ratusan orang dinyatakan hilang, dan ratusan ribu orang yang selamat saat ini mencoba bertahan hidup. Mereka yang bertahan kembali meniti kehidupan seperti sebelum bencana.

Salah satunya Abdurrahman (57). Laki-laki asal Kelurahan Tawaeli, Kota Palu ini menjadi salah satu korban selamat sapuan tsunami yang menghancurkan kampung tempat tinggalnya. Yang paling Abdurrahman syukuri, semua anggota keluarganya dapat terhindar setelah langsung berlari ketika guncangan gempa datang.

Tapi, kini ia dan keluarga harus tinggal di tenda pengungsian yang ada di perbukitan dekat tempat tinggalnya. Bapak tiga anak ini bertahan setelah tak lagi harta yang tersisa.

Untuk bertahan hidup, Abdurrahman yang dahulu bekerja sebagai guru mengaji tersebut mengandalkan hasil lukisan tangannya. Bermodal calsin board sebagai media lukis, serta daun kelapa dan pelepah pisang sebagai kuasnya, Abdurrahman dengan telaten menyapu kuasnya dengan cat. “Calsin ini sisa pembangunan hunian sementara,” jelasnya kepada tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang sedang mengunjungi pengungsian Abdurrahman untuk mendistribusikan bantuan, Senin (11/2)

Laki-laki kelahiran Majene, Sulawesi Barat ini menjual lukisannya seharga 250 hingga 300 ribu rupiah. Ukuran dan tingkat kesulitan lukisan menjadi penentu harga. Uang yang didapatkan akan digunakan Abdurrahman untuk menghidupi keluarganya yang sampai saat ini masih tinggal di pengungsian. Namun, kendala pemasaran menjadi penghalang Abdurrahman menjual buah tangannya.

Untuk itu, selain memberikan bantuan logistik, pada Senin siang itu tim ACT juga membuat rencana untuk membantu memasarkan lukisan Abdurrahman. Kepala Cabang ACT Sulteng Nurmarjani Loulembah mengatakan, pihaknya akan membantu memasarkan lukisan Abdurrahman itu melalui media sosial yang dimiliki ACT. “Pemasaran diharapkan aka bisa meluas dengan media sosial,” ungkapnya.

Selain itu, Nurmarjani yang akrab disapa Nani ini juga sedang mengagendakan acara pelelangan lukisan karya Abdurrahman. Acara pelelangan itu akan bekerja sama dengan beberapa pihak. Ditargetkan lima lukisan akan dilelang.

Saat ini, Abdurrahman masih menyelesaikan lukisan yang hendak dilelang. Pengerjaan itu dilakukan disela-sela kegiatannya yang juga mengajarkan ngaji di area pengungsian. Lukisan yang sering dibuat Abdurrahman berupa pemandangan atau juga kompleks hunian sementara di Palu. []

 

Tag

Belum ada tag sama sekali

Bagikan