Bertamu ke Hacipasa, Desa Kecil di Persimpangan Suriah

Bertamu ke Hacipasa, Desa Kecil di Persimpangan Suriah

ACTNews, HACIPASA, Hatay – Dua desa ini bertetangga dekat sekali. Satu desa bernama Hacipasa, ada di sisi Turki. Satu desa lagi, Azmarin, ada di sisi Suriah. Hanya sebuah aliran sungai kecil yang memisahkan. Ialah Sungai Asi atau lebih dikenal dengan Oronte, sungai yang lebarnya mungkin tak sampai belasan meter. Dulu, sebelum konflik membuat kekacauan di semua sisinya, dua desa – berbeda negara tapi bertetangga – ini adalah saudara.

Tapi kini, di Azmarin, desa di sisi sebelah Suriah hanya ada kekosongan. Sementara di Hacipasa, sisi sebelah Turki bersesakan ratusan keluarga pengungsi Suriah, jumlahnya ribuan jiwa.

Bahkan di awal-awal pecah perang Suriah tahun 2011 lalu, Hacipasa sempat dikenal sebagai pintu gerbang paling mudah dari wilayah Idlib Suriah, untuk mengungsi ke Turki. Sepanjang tahun-tahun kemarin, ribuan keluarga Suriah memilih menyeberangi sungai kecil di Hacipasa. Mereka menjadi pengungsi, mencari perlindungan di kamp-kamp pengungsian paling dekat.

Untuk Hacipasa, kembali ke desa kecil di ujung perbatasan ini adalah pilihan yang akhirnya diambil. Masih teringat, baru lewat sebulan lalu, di pertengahan Februari 2018 tim SOS Suriah Aksi Cepat Tanggap (ACT) ke XIV pun sempat bertandang ke desa kecil ini.

Sampai akhirnya, pilihan untuk kembali lagi ke Hacipasa itu datang. Segenap tim relawan Indonesia Humanitarian Center (IHC) - ACT bersiap membawa buah tangan terbaik. Kali ini, yang diboyong dari IHC berupa ratusan kotak-kotak bahan pangan. Insya Allah cukup untuk memenuhi kebutuhan selama sebulan di rumah-rumah mungil pengungsi Suriah.

“Alhamdulillah, kami punya kesempatan datang lagi ke desa kecil di ujung perbatasan ini. Tidak kurang 210 paket pangan kami boyong dari IHC yang berada di Reyhanli. Ada kerinduan untuk bertamu kembali ke Hacipasa,” ujar Firdaus Guritno, Koordinator IHC – ACT.

Hacipasa, nasib ratusan keluarga Suriah yang terasing

Dari gudang IHC di tengah Kota Reyhanli, dibutuhkan paling tidak 1,5 jam perjalanan darat. Menyusuri jalur utama keluar Kota Reyhanli, kemudian berbelok tajam ke arah timur. Jalan berubah berliku, naik-turun pegunungan. Di balik pegunungan itu, tersembunyi desa kecil Hacipasa. Dari sisi administratif, Hacipasa termasuk dalam wilayah Distrik Altınözü, masih di Provinsi Hatay, Turki.

“Dulu, sebelum perang Suriah meletus, populasi Hacipasa dihuni ratusan kepala keluarga asli Turki. Tapi hari ini, dengan total populasi 550 keluarga. Justru mayoritas paling banyak adalah keluarga Suriah. Jumlah keluarga Suriah di Hacipasa ada 300 keluarga,” kata Ahmet, Kepala Desa Hacipasa.

Benar saja, keceriaan di Hacipasa terulang kembali. Di desa kecil ini mayoritas pekerjaan yang bisa dilakukan adalah bertani. Para penduduk menggarap kebun, memanen hasil tani.

Walau hidup lebih aman di Hacipasa, menetap menjadi pengungsi belum tentu nasib berubah baik. “Kebanyakan keluarga pengungsi Suriah di desa kecil ini hanya bisa menyewa tanah untuk berkebun, atau menggarap kebun orang. Penghasilan yang didapatkan tak seberapa. Harus disisihkan juga untuk menyewa rumah-rumah yang mereka tempati di Hacipasa,” kisah Ahmet.

Lokasi Hacipasa yang jauh dari keramaian kota pun membuat desa kecil ini terasing. Ahmet mengaku, jarang sekali ada bantuan kemanusiaan yang masuk sampai desa yang ia pimpin ini.

“Sejak awal tahun 2018 ini, baru kawan-kawan dari Indonesia yang datang ke sini, bawa bantuan pangan. Alhamdulillah bantuan seperti ini yang sangat dibutuhkan. Terima kasih, semoga kebaikan ini kembali ke kalian di Indonesia,” kata Ahmet.

Proses distribusi ratusan paket pangan dilakukan langsung oleh Ahmet, dibantu oleh beberapa relawan ACT. “Untuk kedua kalinya datang ke desa kecil ini. Keceriaan warga pengungsi Suriah di Hacipasa masih tetap sama. Dari IHC – ACT di Reyhanli, tiap paket pangan disiapkan berisi bermacam bahan pangan. Seperti gula, garam, minyak zaitun, kacang-kacangan, tepung roti, sampai ke perlengkapan sanitasi,” cerita Firdaus.

Jauh sebelum konflik Suriah bermula, sudah sejak lama penduduk asli Hacipasa bersaudara dekat. Menjalin hubungan kekerabatan dengan penduduk Suriah di desa Azmarin, sisi seberang perbatasan.

“Ikatan persaudaraan ini pula yang kini kekal, menghangatkan, membesarkan hati penduduk Hacipasa. Secara terbuka mereka menerima pengungsi Suriah, menerima kaum Muhajirin di desa kecil mereka. Insya Allah, kebaikan yang sama juga sudah dilakukan Indonesia untuk Hacipasa.

Sampai laporan ini diunggah, distribusi paket pangan dari IHC – ACT terus dilakukan setiap harinya. Firdaus mengatakan, target sebaran paket pangan menyapa keluarga pengungsi di rumah-rumah yatim, di kamp pengungsian, juga di desa-desa kecil seperti Hacipasa.

“Alhamdulillah hingga Kamis (12/4) ini sudah terdistribusikan sekitar 700 paket logistik. Setiap bulannya, kami di IHC-ACT menargetkan bisa memboyong 1.000 paket untuk 1.000 keluarga,” pungkas Firdaus. []