Bertani jadi Harapan Basuki Lepas dari Utang

Basuki (52), petani asal Ponorogo, terjerat utang ratusan juta rupiah akibat gagal panen bawang. Ia kemudian berusaha kembali dengan menyewa lahan keluarga dan menanaminya dengan padi.

Basuki kini memiliki harapan baru setelah mengikuti program Wakaf Sawah Produktif dari Global Wakaf-ACT. (ACTNews)

ACTNews, PONOROGO – Basuki (52) awalnya adalah petani yang fokus pada budidaya bawang merah. Namun, harga bawang merah yang anjlok dan gagal panen tidak mampu menutup biaya operasional produksi yang tinggi. Ia berutang banyak. Padahal, modal awal budidaya menanam bawang merah ia peroleh dari meminjam.

Untuk luas lahan satu kotak atau 1.400 meter persegi, modal yang dibutuhkan tidak kurang dari Rp 10 juta. Hampir menyamai biaya satu hektar modal menanam padi. Sebab itu, petani asal Desa Semanding, Kabupaten Ponorogo itu, memiliki utang hingga ratusan juta karena modal tanam bawang yang besar.

Di tengah kebingungan itu, Basuki menggarap lahan seluas 2,5 kotak atau sekitar 3.250 meter persegi yang tengah terbengkalai lima bulan belakangan. Saat Basuki mengelolalahan tersebut, ia dipertemukan dengan Global Wakaf – ACT melalui program Wakaf Sawah Produktif, Desember 2020 lalu. 

"Alhamdulillah, program dari bapak-bapak Gema Petani dan Global Wakaf – ACT jadi penolong bagi saya," ungkap bapak lima anak ini sambil tertawa. Sawah Basuki kini dipenuhi padi yang menghijau. Basuki memiliki harapan besar dari program Wakaf Sawah Produktif. Padi pun ia rawat sesuai pendampingan tim Global Wakaf-ACT, sejauh ini hasilnya memuaskan.

Dipo Hadi Waskita dari Tim Program Global Wakaf – ACT Jawa Timur menerangan, Wakaf Sawah Produktif telah membangkitkan semangat Basuki. Dari hasil tanam yang maksimal Basuki bisa berharap bisa membayar utang-utangnya.

“Pak Basuki adalah salah satu petani yang kami ikhtiarkan terlepas dari utang dan riba. Selain mengukuhkan kedaulatan pangan negeri, Wakaf Sawah Produktif membantu para produsen di sektor pangan agar hidup lebih sejahtera,” kata Dipo.[]