Bertaruh Nyawa Melintasi Jembatan Darurat

Jembatan dari bambu di atas arus sungai yang deras kini jadi satu-satunya akses warga keluar-masuk Kampung Cigowok 2, Desa Sukamaju, Kecamatan Cigudeg. Pasalnya, banjir bandang pada awal 2020 lalu telah memutus jembatan utama.

Warga Kampung Cigowok melintasi jembatan darurat, Rabu (15/1). Jembatan utama telah terputus akibat diterjang banjir bandang di awal tahun 2020 lalu. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, KABUPATEN BOGOR Puluhan motor terparkir di ujung jembatan yang menghubungkan antara Kampung Cigowok 1 dan Cigowok 2 yang ada di Desa Sukamaju, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor. Sang pemilik kendaraan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, menempuh medan berupa jembatan darurat yang terbuat dari susunan bambu. Arus sungai terdengar deras, warna ainya kecokelatan.

Jembatan bambu itu kini menjadi satu-satunya jalan penghubung antara dua kampung. Bencana banjir bandang yang menerjang Desa Sukamaju membuat jembatan utama terputus, bahkan badan jembatan kini tak lagi terlihat karena terbawa arus yang deras dengan volume air yang tinggi.

Eman, warga Kampung Cigowok 2 pada Rabu (15/1) terlihat menyeberang jembatan darurat hasil swadaya masyarakat. Sambil mengenakan helm, ia menyeberang dengan hati-hati, apalagi Eman sambil membawa anaknya. Seutas tambang yang menjadi pegangan digenggamnya agar tak jatuh ke arus sungai yang cukup deras.


Jembatan utama di Kampung Cigowok yang telah terputus karena banjir bandang awal Januari 2020. Satu-satunya akses keluar-masuk kampung ini dibangun sekitar tahun 1980an. (ACTNews/Eko Ramdani)

Pengguna jembatan darurat ini memang bukan hanya Eman. Sejak jembatan utama hancur terhantam banjir bandang, ratusan orang melintas jembatan yang terdiri atas empat batang bambu yang tersusun serta sebatang kayu kelapa utuh. Barang bantuan serta pangan untuk kebutuhan korban terdampak banjir pun diakses melalui jembatan ini.

“Kendaraan yang saat jembatan terputus posisinya di Kampung Cigowok 2 sampai sekarang masih tertahan di sana. Ada belasan mobil dan puluhan motor yang enggak bisa keluar kampung,” kata Eman kepada ACTNews.

Saat ini, secara swadaya masyarakat sedang membangun jembatan lain yang dapat dilintasi kendaraan bermotor hingga kendaraan roda empat. Arus yang deras dan masih tingginya intensitas hujan membuat pekerjaan menjadi agak berat.

Jembatan baru kini yang menjadi idaman warga. Supriadi, warga Desa Sukamaju, mengungkapkan, jembatan menjadi kebutuhan paling medesak saat ini. Jembatan yang telah hancur itu pun merupakan jembatan lama yang telah dibangun sejak 1980an, dan memang membutuhkan pembaruan. “Jembatan bambu begini bahaya, apalagi untuk anak-anak,” ungkapnya.

Desa Sukamaju sendiri pada 1 Januari 2020 lalu diterjang banjir bandang. Air Sungai Cidurian yang melintasi desa ini meluap. Permukiman yang berjarak 100 meter dari bibir sungai terdampak banjir dengan ketinggian lebih kurang 1 meter. Akibat banjir bandang itu, selain merendam permukiman warga, juga memutus satu-satunya jembatan penghubung antar kampung. Sejak saat itu, Kampung Cigowok 2 terisolir.[]