Besarnya Pengaruh Wakaf terhadap Kejayaan Peradaban Islam

Waqf Business Forum kembali dihelat pada Kamis (7/5) ini melalui kanal daring. Kali ini Waqf Business Forum membahas wakaf dan pengaruh wakaf terhadap kejayaan peradaban Islam di masa lampau.

Besarnya Pengaruh Wakaf terhadap Kejayaan Peradaban Islam' photo
Pembicara dan moderator dalam Waqf Business Forum, Kamis (7/5) ini. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, JAKARTA – Global Wakaf – ACT menggelar Waqf Business Forum 2020: Bring Your Assets to Jannah. Acara pada Kamis (7/5) tersebut membahas seputar bagaimana wakaf dapat menopang suatu peradaban. Pembicaraan yang biasanya dihelat secara langsung di beberapa kota, kini berlangsung secara daring melalui kanal Youtube dan beberapa media ACT berkenaan dengan aturan pembatasan jarak fisik.

Waqf Business Forum kali ini mengundang Imam Teguh Saptono selaku Komisaris Global Wakaf Corporation, Ustaz Haikal Hassan atau yang akrab dengan sebutan Babe Haikal. Acara tersebut juga mengundang Joni Kusumahadi, seorang koki yang merupakan salah satu wakif dari Global Wakaf. Ia mewakafkan hampir setengah dari aset restorannya untuk kemanusiaan.

Imam mengawali pembicaraan dengan mengajak kembali kepada zaman kekuasaan Kesultanan Turki Utsmaniyyah yang kala itu sedang dalam kejayaan. Ia mengatakan pada zaman itu 70% lahan pertanian di yang ada di Kesultanan Utsmaniyyah merupakan lahan wakaf.

“Jadi wakaf apabila dikelola dengan baik, bisa menjadi pilar peradaban umat. Izzah umat menjadi kuat. Pengiriman tantara, pengiriman pangan, semua dilakukan karena wakaf,” jelas Imam.


Salah satu restoran Joni Kusuma Hadi yang keuntungannya diwakafkan untuk masyarakat. (ACTNews/Reza Mardhani)

Babe Haikal mundur lebih jauh lagi ke belakang. Ia memberikan contoh sumur Utsman, di mana Utsman membeli sumur dan hasilnya diwakafkan untuk umat. Aset dari sumur itu bahkan berkembang menjadi hotel bintang 5 dan kebun kurma. Ia ingin wakaf produktif inilah yang nantinya memajukan Indonesia di masa depan.

“Saya kepingin sekali ada orang yang bikin wakaf kapal tanker. Jadi nanti ikan-ikannya itu semua untuk kemaslahatan umat. Jadi wakaf yang seperti ini, yang produktif. Jadi bisa digunakan seluruhnya. Beras (dari Lumbung Beras Wakaf) hanyalah salah satu yang ACT bisa lakukan. Dekat dengan masyarakat, dan tidak kufur arah bahwa kita negara agraris,” tutur Babe Haikal.


Sejalan dengan itu, Imam mengatakan bahwa memang ada dua model wakaf. Pertama adalah model wakaf sosial yang lebih populer di masyarakat seperti kuburan dan masjid. Lalu ada juga wakaf produktif seperti lahan pertanian dan sumur yang mendukung produksi di masyarakat. Idealnya, menurut Imam, hasil dari aset wakaf produktif ini yang mendukung aset wakaf sosial, seperti di masa kejayaan Baghdad pernah berdiri Rumah Sakit Al-Adudi.

“Di sana ceritanya satu rumah sakit itu di-backup oleh one village land of agriculture. Jadi satu rumah sakit itu di-backup oleh satu hamparan pertanian. Apa yang bisa dibuat oleh rumah sakit saat itu? Satu, tidak perlu membership. Dua, siapa yang sakit tidak ada biaya sedikit pun. Warga negara, bukan warga negara, ataupun musafir. Dan apabila mereka sembuh lalu ketahuan mereka prasejahtera, maka diberikan modal untuk berusaha,” cerita Imam.

Global Wakaf – ACT siap memulai lagi melangkah ke kejayaan ini dengan mengimplementasikan ragam wakaf produktif yang diamanahkan masyarakat. Salah satunya Joni yang terkesan ketika berkontribusi langsung melalui Global Wakaf.

“Alangkah bahagianya begitu kita mendistribusikan makanan sampai kita kasih dari rumah ke rumah. Banyak mereka, sahabat dan saudara kita di luar sana yang belum makan atau mereka sangat kekurangan dalam kebutuhan makanan. Pokoknya (perasaan) itu tidak bisa kita ceritakan,” ujar Joni. []


Bagikan