Bibit: Pandemi Ajarkan Saya untuk Mandiri

Semenjak pandemi, Bibit mempunyai cukup waktu luang di luar mengajar sebagai guru di sebuah TK di Kota Malang. Sementara pendapatan suaminya agak goyah di awal pandemi. Ia akhirnya memproduksi minuman instan dari rempah-rempah untuk tambahan pemasukan.

Bibit bersama produk "Minuman Instan Bu Bibit" yang tersaji di atas meja. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, MALANG – Di ruangan penuh foto keluarga itu, secangkir minuman berwarna kuning kecokelatan tersaji. Asap tipis di atas cangkir membawa aroma rempah yang manis ketika dihirup. "Ini temulawak. Biasanya disajikan satu sendok teh untuk satu cangkir. Kalau mau lebih pekat bisa pakai satu sendok makan saja,” kata Bibit Demiyati (40), wanita di balik produk "Minuman Instan Bu Bibit".

Produk-produknya dapat ditemui di beberapa toko di Kota Malang dan seingat dia kini ada 17 toko di Kota Malang yang menjual produknya. Bibit memproduksi sendiri minuman instan tersebut di rumahnya. Bukan pertama kali sebenarnya, pembuatan produk minuman instan ini sudah ia kuasai sejak 14 tahun lalu. Kala itu ia tidak memproduksinya sebanyak sekarang karena terpotong kesibukan sebagai guru sebuah TK, sehingga ia memasarkannya hanya ke warung sebelah rumah atau melayani pesanan yang datang.

Namun semenjak sekolah TK menjalani pembelajaran jarak jauh, Bibit hanya perlu mendampingi langsung anak-anak yang tidak memiliki telepon genggam, dan selebihnya ia bekerja dari rumah. Sehingga ia mendapat lebih banyak waktu luang untuk mengembangkan produknya.

“Kalau ini benar-benar pure saya jual, baru beberapa bulan belakangan. Kan sejak pandemi belajar di rumah, saya juga di rumah, thok. Paling hanya kirim tugas atau apa, jadi banyak waktu luang. Jadi ini aja wes, dimantapkan untuk pemasukan, alhamdulillah,” kata Bibit ditemui di rumahnya di wilayah Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang pada Senin (19/10).


Alat-alat produksi Minuman Instan Bu Bibit. (ACTNews/Reza Mardhani)

Untuk kunyit putih dan temulawak ia jual seharga Rp10 ribu kepada toko-toko, sementara jahe Rp15 ribu, dan wedang uwuh Rp25 ribu untuk tiap kemasan. Dalam satu hari, dia bisa menghabiskan 6 kilogram bahan baku untuk produksinya.

Bibit mengaku usaha yang ia jalani ini kini cukup banyak menambah pemasukan keluarga. Karena suaminya yang bekerja sebagai fotografer semenjak Maret lalu hingga kini masih terdampak penghasilannya akibat pandemi. Tidak ada acara yang diselenggarakan, berarti tidak ada fotografer di sana. “Sempat ada berhentinya. Kalau berhentinya ya hanya 2 bulan atau 3 bulan awal pandemi. Tapi terasanya yo, luama sekali,” ungkap Bibit sembari tertawa. Semenjak pelonggaran pembatasan fisik, suaminya kini bisa beraktivitas kembali.

Namun usaha ini akan tetap dilanjutkan Bibit ke depannya. Ia sudah tahu seluk-beluknya sehingga percaya diri usaha yang ia rintis akan berjalan walaupun sekolah kelak kembali buka. Pandemi memberi Bibit pelajaran tersendiri tentang hidup mandiri.

“Harapannya saya bisa mandiri. Karena pandemi itu memberi pelajaran. Istri tidak sepenuhnya bergantung pada pemasukan suami. Kalau selama ini kan saya enjoy aja. Kerja jadi guru TK digaji berapa pun ya wes oke saja, kan ada topangan dari suami. Begitu ada pandemi, suami harus mencukupi empat anak sekolah, jadi istri harus kuat. Jadi alhamdulillah, kita harus benar-benar memperkuat diri dari sekarang,” tuturnya.


Bibit sedang memilih bahan untuk produksi. (ACTNews/Reza Mardhani)

Menyikapi pandemi, Bibit juga terus optimis sampai pandemi berlalu. “Kayaknya kalau menuruti (pandemi) enggak akan ada habisnya, ya enggak habis-habis (juga). Sebenarnya lewat enggak lewat, tergantung dari kita menyikapi. Kalau saya optimis pandemi pasti segera selesai, mbok dijalani saja, ambil peluang. Sekecil apapun, itu peluang besar,” jelasnya.

Saat ini kendala yang ditemuinya adalah modal yang macet karena beberapa toko yang bekerja sama dengannya ada yang harus menunggu produknya laku sebelum dibayarkan. Bibit paham hal tersebut sehingga ke depannya ia berharap adanya suntikan modal agar sembari menunggu, ia bisa melakukan produksi terlebih dahulu.

“Selain untuk modal, saya ingin buat varian baru. Saya butuh mesin penepung karena cengkih dan kayu manis itu sangat keras, tidak bisa pakai blender kering biasa. Kemudian untuk beli kantung teh, dan memperbaiki label. Ini kan hanya beli stiker biasa, kemudian anak saya yang SMP yang desain, kemudian saya print sendiri,” ujar Bibit.


Optimisme Bibit yang juga menggerakkan Global Wakaf – ACT Malang untuk membantunya mengembangkan produk usahanya. Bibit merupakan calon penerima manfaat Wakaf Modal Usaha Mikro yang diinisiasi oleh Global Wakaf – ACT.

“Ke depannya, kita berencana memberikan bantuan permodalan kepada Ibu Bibit melihat potensi usahanya yang terus berkembang saat ini. Selain itu ada beberapa penerima manfaat lagi yang sedang kita usahakan untuk berjalan bersama Wakaf Modal Usaha Mikro di Malang,” jelas Iqrok Wahyu Perdana dari Tim Global Wakaf – ACT Malang.

Iqrok juga berharap ke depannya, masyarakat dapat ikut berkolaborasi dalam penyaluran bantuan ini. “Kami berharap dukungan dari para dermawan sekalian, sehingga lebih banyak lagi bantuan yang nantinya kita luaskan untuk para pelaku usaha di Kota Malang,” ajak Iqrok. []