Bidan Zul, Mengabdi untuk Masyarakat di Tepian Negri

Cerita Bidan Zul di Manggarai Barat menjadi potret kecil di Hari Ibu. Di sejumlah daerah yang jauh dari perhatian, sangat banyak ibu berdedikasi yang mengabdi untuk keluarga dan masyarakat.

Bidan Zul saat bertugas melakukan pemeriksaan kesehatan dan pembagian tablet penambah darah kepada remaja di SMP Kampung Naga, Desa Mata Wae, Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat. (Dok. pribadi)

ACTNews, MANGGARAI BARAT – Pagi sudah cukup membuat Zul Indarwansyah (29) bergegas ke dalam hutan di Kampung Naga, Desa Mata Wae, Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Kira-kira satu tahun lalu, seorang warga kampung menghubunginya pukul tujuh pagi. “Ibu Bidan, ada yang butuh pertolongan. Baru saja melahirkan,” kata seorang warga tergesa menjemputnya di rumah dinas pagi itu.

Tidak jauh Zul memasuki hutan, warga sudah ramai berkerumun sembari menggotong tandu yang dibuat dari bambu dan sarung. Ada seorang ibu dan bayi yang baru lahir di dalamnya. Saat itu pasien dalam kondisi kritis karena pendarahan. Zul segera memberikan pertolongan pertama.

“Ibu mengalami pendarahan karena plasenta belum keluar. Saya pasang infus, putus plasenta. Lalu bawa ke puskesdes untuk dirujuk ke puskesmas. Saat itu HB (hemoglobin) juga sudah amat rendah, denyut juga lemah. Namun, alhamdulillah, selamat,” cerita Zul mengingat peristiwa itu, saat dihubungi ACTNews, Senin (21/12) malam.

Itu adalah salah satu kisah yang masih diingat Zul hingga kini. Belum terlalu lama, peristiwa itu terjadi satu tahun lalu. Kampung Naga memang terletak cukup jauh dari Ibu Kota Kabupaten Labuan Bajo, sekitar 31 kilometer. Di sana pun masih minim fasilitas.

Zul mengatakan, saat bertugas masih banyak ibu yang melahirkan di rumah dengan bantuan dukun beranak. Oleh karena itu, angka keselamatan ibu saat melahirkan cukup riskan. Pada 2019 saja, dari 30 kelahiran per tahun, masih sekitar 3-5 ibu hamil di Kampung Naga yang pilih melahirkan di rumah. Sebab itu, peran Zul sebagai bidan amat dibutuhkan. Ia beramanah sebagai pengedukasi dan menolong setiap ibu hamil mulai dari mengandung hingga pascamelahirkan.

“Semoga, nanti bisa ada bantuan yang masuk juga ke Kampung Naga. Di sana masih butuh bantuan penerangan,” kata Zul.

Peran Zul sebagai bidan desa tidak luput dari dukungan keluarga. Orang tua, suami, dan anak-anaknya amat suportif. Bahkan, saat ia sedang mengandung, bidan lulusan Yogyakarta itu tetap setia menjalankan amanah profesi. “Saya pernah harus antar pasien ke pelayanan kesehatan terdekat saat sedang mengandung anak kedua,” lanjutnya.


Bidan Zul (kiri) menanti kedatangan pasien yang diangkut dengan kendaraan desa. Saat mengandung, ia tetap harus menjalankan profesi sebaik mungkin. (Dok. Pribadi)

Dalam menjalankan tugas, Zul juga pernah menjalani hubungan jarak jauh dengan keluarga karena dusun penempatannya yang jauh dan minim akses. Risiko itu harus ia terima. Orang tuanya Zul bantu mengasuh anak-anaknya.

“Tahun ini, alhamdulillah saya ditempatkan di puskesmas yang dekat dengan rumah, Desa Nanga Lili, Lembor Selatan. Di Kampung Naga, tempat saya bertugas lalu, kini sudah ada dua bidan pengganti,” katanya. Bertepatan dengan hari ibu, Zul berpesan, ia berharap setiap ibu di seluruh dunia harus berdaya dan berkarya.[]