Bijak Memahami Potensi Gempa Megathrust di Selatan Jawa dengan Mitigasi

Paparan penelitian para pakar tentang potensi gempa megathrust di Selatan Jawa disikapi sebagian orang dengan cemas. Padahal, fakta ilmiah itu merupakan kajian potensi dan bukan prediksi. Keadaan ini kemudian memantik pertanyaan “sudah siapkah kita dengan mitigasi saat bencana terjadi?”

Ilustrasi. Tangkapan layar peta pulau Jawa melalui Google Maps. Potensi megathrust di Selatan Jawa belakangan menjadi perhatian publik setelah dipublikasikan para peneliti dari ITB. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA – Guru Besar Seismologi Institut Teknologi Bandung Prof. Sri Widiyantoro kembali mengingatkan bahwa kajian potensi gempa megathrust di selatan Jawa merupakan paparan akademis dan bukan sebuah prediksi. Penelitian itu diharapkan menjadi pertimbangan pemangku kebijakan dan menyiapkan masyarakat dalam mitigasi bencana.

“Studi yang kami lakukan bukan merupakan prediksi, tetapi mencoba mengenali potensi gempa dan tsunami yang kemungkinan bisa terjadi di selatan Jawa. Beberapa skenario sudah kami kerjakan, nanti kami tunjukkan worst-case scenario atau skenario terburuk yang kami punya. Hal ini dilakukan untuk mengefektifkan usaha mitigasi,” kata profesor Ilik, sapaannya, dalam webinar Meneropong Ancaman Megathrust Selatan Jawa dan Bagaimana Upaya Mitigasinya yang diselenggarakan Disaster Management Institute of Indonesia (DMII) - Aksi Cepat Tanggap, Selasa (6/10). 

Publikasi ilmiah dengan judul “Implications for megathrust earthquakes and tsunamis from seismic gaps south of Java Indonesia” yang dilakukan Sri Widiantoro, dkk. itu diterbitkan 17 September lalu. 

Para peneliti ITB melakukan kajian yang terpantik dari penelitian Ron Harris dan Jonathan Major yang dipublikasikan pada 2016. Para peneliti asal Amerika itu menemukan endapan yang terbentuk karena tsunami (tsunami deposit), namun tidak bisa dipastikan waktu gempa persis terjadi dan diperkirakan pada tahun 1584 atau 1586. Gempa pada waktu itu juga merusak candi Borobudur dan Prambanan.

“Lalu kami (para peneliti ITB) ingin tahu dong ya kalau sudah ada deposit tsunami seperti ini, gempanya ada di mana? Itu yang kami cari. Sehingga muncullah paper tadi,” kata Ilik.

Ia melanjutkan, paparan yang dilakukan para peneliti ditujukan menjadi memperkuat pengetahuan tentang potensi bahaya di sekitar masyarakat. Pengetahuan yang bertambah diharapkan mendukung kesiapsiagaan masyarakat dan mengurangi risiko bencana.


Tsunami menerjang Pandeglang, Banten, Desember 2018. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi tsunami disebabkan oleh longsor bawah laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Bencana tersebut menyebabkan 2.752 rumah penduduk hancur dan 437 korban jiwa. (ACTNews/Shulhan Syamur Rijal)

Profesor Ilik pun memaparkan sejumlah mitigasi yang bisa dilakukan, yaitu edukasi dan sosialisasi ke masyarakat, menyediakan pemecah gelombang alami berupa hutan mangrove atau buatan, tata ruang yang apik, dan Tsunami Early Warning System nasional.

Kepala Bidang Mitigasi dan Gempa Bumi BMKG Daryono juga mengajak masyarakat menyikapi hasil kajian para peneliti gempa dengan respons kesiapsiagaan mitigasi. Secara teknis, pada 2008 BMKG telah membangun sistem Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTews) dan memasang 370 sensor seismik yang dapat memberikan informasi gempa dalam waktu 2-3 menit.

“BMKG juga menyiapkan multimoda diseminasi InaTews. Masyarakat perlu memiliki multimoda penerima informasi,” kata Daryono. Multimoda yang dimaksud antara lain aplikasi info BMKG, warning receiver system mobile, sirine tsunami, WhatsApp dan Telegram, social media, website, radio, televisi. Selain sitem, BMKG juga melakukan edukasi berupa Sekolah Lapang Gempa.

Direktur Executive Disaster Management Institute of Indonesia Wahyu Novyan menegaskan, upaya mitigasi tidak hanya dilakukan oleh pemangku kebijakan, tetapi harus diasadari oleh setiap jiwa. Sebab itu, DMII meyakini bahawa setiap orang harus menjadi penyelamat. “Everyone is a life saver. Kami dari civil society berpikir memperkuat mitigasi kulturalnya, tidak hanya komunitas, tetapi setiap orang harus punya pemahaman yang memadai bahwa dia bisa menyelamatkan dirinya dan orang banyak, jadi harus berbasis individu,” kata Wahyu. Kemampuan itu tidak hanya saat menghadapi ancaman megathrust, lanjut Wahyu, tetapi juga berlaku pada setiap kondisi membahayakan mengingat potensi bencana di Indonesia cukup banyak.[]