Bilik Bambu, Tempat Bernaung Omoh di Usia Senja

Usia Omoh telah menginjak 80 tahun, namun ia masih harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Rumah tak layak huni menjadi tempatnya bernaung saat ini. Di usia senjanya, Omoh mendamba tinggal di rumah sederhana yang layak.

Omoh sedang menganyam bambu untuk ia jual. Perempuan 80 tahun ini merupakan lansia yang masih harus bekerja memenuhi kebutuhan pangannya. (ACTNews)

ACTNews, TASIKMALAYA – Nek Omoh, begitu warga Desa Sundawenang, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya memanggil perempuan berusia 80 tahun ini. Omoh merupakan lansia yang hidup sebatang kara di tempat yang ia sebut sebagai rumah. Bilik bambu yang ditambal karung di bagian yang bolong menjadi dindingnya, sedangkan plastik menjadi pelapis atap agar tidak bocor. Tidak ada barang-barang mewah menemani Omoh di rumah.

Rumah yang Omoh tempati sendiri itu berdiri sejak 1998. Jarang tersentuh renovasi karena kendala dana, membuat kondisi rumah saat ini cukup memprihatinkan. Bagian-bagian rumah saat ini juga telah lapuk termakan usia. Bahkan fasilitas MCK pun tidak ada. Ketika hari terik, panas seolah mengepung seisi rumah, sedangkan ketika malam, dingin begitu terasa.

“Jangankan untuk renovasi rumah, untuk makan saja susah," cerita Omoh.

Menjadi penganyam bambu dengan upah Rp5 ribu - Rp10 ribu dijalani Omoh. Itu pun tak setiap saat, hanya ketika ada pesanan saja. Hidup sebatang kara dengan kondisi ekonomi yang masih prasejahtera memaksa lansia ini harus tetap bekerja di tengah menurunnya kemampuan fisik faktor usia. Untuk berjalan saja tongkat menjadi tumpuan Omoh, tubuhnya juga sudah mulai membungkuk.

“Kalau ada kerjaan dan dapat uang, saya baru bisa makan,” ungkap Omoh pada awal Desember lalu.

Anyaman bambu yang Omoh produksi salah satu hasilnya ialah kukusan nasi, nyiru, serta tolombong atau keranjang bambu. Selain menganyam bambu, Omoh  juga menyambi sebagai buruh tani. Sayanag, pekerjaan yang sangat mengandalkan kekuatan fisik ini tak lagi bisa dilakukan karena Omoh yang kakinya mengalami sakit pasca terjatuh beberapa bulan lalu.

Hidup seorang diri di rumah yang sudah tak layak huni bukanlah hal yang mudah. Meskipun begitu, ia tetap memiliki semangat dan tak ingin menjadi beban orang lain. Maka dari itu, Omoh tetap bekerja walau tak seberapa hasilnya.

Kini, mengidamkan tempat tinggal yang jauh lebih layak dan nyaman menjadi harapan Omoh. Aksi Cepat Tanggap (ACT) pun saat ini tengah berikhtiar mewujudkan impian itu. Melalui program Mobile Social Rescue, ACT tengah menggalang dana secara daring melalui laman Kitabisa untuk membangun ulang rumah Omoh.

“Proses penggalangan dana akan berakhir dalam waktu 28 hari dan membutuhkan dana yang cukup besar. Jika waktu penggalangan secara daring telah berakhir, dermawan bisa tetap menyalurkan sedekahnya langsung melalui ACT Tasikmalaya,” jelas Fauzi Ridwan dari tim Program ACT Tasikmalaya, Senin (21/12).

Sedekah terbaik ini bisa disalurkan melalui ACT dengan cara mendatangi kantor ACT Tasikmalaya di Jalan Cimulu Nomor 15, Tawangsari, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya. Selain itu, dermawan juga bisa menghubungi ACT Tasikmalaya melalui media sosial untuk informasih lebih lanjutnya.[]