Bingkisan Istimewa untuk Ratusan Keluarga Suriah di Hacipasa

Bingkisan Istimewa untuk Ratusan Keluarga Suriah di Hacipasa

Bingkisan Istimewa untuk Ratusan Keluarga Suriah di Hacipasa' photo

ACTNews, HATAY – Jalan yang kami tapaki makin menanjak dan lalu menyempit, tanda bahwa kehidupan kota mulai ditinggalkan di belakang. Kabut tebal sudah menutup seluruh badan jalan. Karena kabut, jarak pandang turun drastis tak lebih dari 10 meter. Sementara itu, suhu di luar jendela mobil yang mulai berembun, sekira sembilan derajat Celsius.

Pagi kemarin, Rabu (28/2) kami, Tim SOS for Syria XIV, bergerak menjauh dari hiruk-pikuk Kota Antakya, menuju ke satu desa yang berada dekat sekali dengan tapal perbatasan Suriah.

Desa di kaki gunung ini bernama Hacipasa, satu setengah jam perjalanan dari Kota Antakya. Suasananya begitu lengang. Karena lokasinya yang begitu dekat dengan perbatasan Suriah, Hacipasa menjadi pelarian ratusan keluarga Suriah. Kami menemukan data, di desa kecil ini jumlah warga pengungsi Suriah sudah melampaui jumlah keluarga asli Turki.

“Sekitar 550 keluarga pengungsi tinggal di Desa Hacipasa. Keluarga asal Suriah yang datang pascaperang sudah berjumlah 300 keluarga. Mereka menyewa rumah di Hacipasa dan berbaur dengan warga asli Hacipasa. Mereka menggarap kebun, menjadi petani dengan kondisi apa adanya,” kata Mohammed, mitra ACT yang menemani distribusi bantuan sampai Hacipasa.

Selepas keluar dari selimut kabut, mobil yang kami tumpangi mematikan mesinnya di depan sebuah gudang, di tengah kesunyian Desa Hacipasa.

Di dalam gudang, sudah disiapkan sekitar 300 paket pangan berisi belasan jenis bahan pokok. Mulai beras, gula, gandum, keju, minyak, kacang-kacangan, tepung roti, dan beberapa bahan pangan lain. Hari itu, kami sengaja datang ke Hacipasa dan membawa bingkisan istimewa untuk ratusan keluarga pengungsi Suriah yang menetap apa adanya di desa ini.

“Kamu lihat di ujung sana, bukit itu sudah masuk wilayah Suriah. Warga Suriah di Hacipasa berjalan kaki sampai ke desa terakhir di seberang batas ini, Azmarin namanya. Dari Desa Azmarin, Suriah, mereka menyeberang dengan perahu melintasi sungai kecil sampai Hacipasa. Mungkin bertahan di sini sampai perang selesai,” cerita Mohammed sembari menunjuk ke arah perbukitan hijau di seberang Hacipasa.

Kesunyian Hacipasa benar-benar terasa. Pagi itu memang masih sangat pagi. Jam tangan menunjuk ke angka 10 waktu setempat. Sepagi itu, kata Mohammed, mayoritas pengungsi Suriah di Hacipasa sudah pergi ke ladang.

“Mau kerja apa lagi? Di Hacipasa warga Suriah ini menyewa tanah, menggarap ladang. Uang yang ada langsung dipakai beli gandum, atau roti atau beras,” terang Mohammed.

Relawan lokal ACT pun memulai aksinya. Sebelum azan Zuhur, beberapa relawan memanggil ratusan keluarga Suriah merapat ke gudang sebelah kantor Kepala Desa Hacipasa. Sembari memakai sepatu bot penuh lumpur, bahkan menaiki traktor, warga Suriah di Hacipasa datang satu pe rsatu. Tawa mereka sumringah. Barisan dibuat rapi dan distribusi bantuan dimulai.

Lebih setahun tak ada bantuan masuk

Satu per satu kotak putih berisi paket pangan mulai dibagikan. Jumlahnya lebih kurang 300 paket. Logo ACT tersemat di sisi kotak. Tak lupa bendera Indonesia dengan kalimat “Terima Kasih Indonesia” tertempel di banyak sudut. Kami, mengenalkan Merah Putih sekaligus nama Indonesia ke pengungsi Suriah di zona perbatasan ini.

“Semangat kemanusiaan Indonesia alhamdulillah sampai ke Hacipasa. Ini menjadi pemicu senyum ratusan keluarga pengungsi Suriah di titik perbatasan ini,” kata Rahadiansyah, Koordinator Tim SOS for Syria XIV.

 

Satu barisan panjang dibikin rapi. Setiap warga Suriah yang datang diminta untuk memegang kartu tanda identitas pengungsi. Sekilas kami membaca, mereka berasal dari Idlib, Aleppo, Homs, Hama, Latakia, dan sebagian kecil lainnya dari Ghouta di Damaskus.

Selagi menyelesaikan distribusi, sebuah kenyataan kami dapati. Rupanya sudah lebih setahun tidak ada bantuan kemanusiaan apapun yang singgah sampai Hacipasa. Kepala Desa Hacipasa, Ahmed*, mengatakan Hacipasa seperti dilupakan.

“Padahal di sini salah satu zona kemanusiaan (humanitarian border). Pemerintah Turki membuka gerbang perbatasan untuk pengungsi Suriah di batas ini. Tapi lama tidak ada bantuan masuk. Kalian (menunjuk kami), orang Indonesia pertama yang datang ke desa ini,” kata Ahmed.

Jelang beberapa kotak terakhir, distribusi bantuan yang merupakan amanah masyarakat Indonesia ini berlanjut dengan cara berbeda. Setiap pintu rumah sederhana milik Keluarga Suriah kami ketuk. Tidak kurang 10 rumah kami sambangi di sekeliling Hacipasa. Doa dan terima kasih untuk Indonesia dikirim sampai ke langit.

“Allah kirimkan kebaikan untuk Indonesia. Terima kasih. Kami menghargai perjuangan kalian sampai ke sini. Semoga suatu saat nanti kita bisa ketemu di Suriah, Insya Allah,” kata Laila, perempuan paruh baya asal Homs, mengucap doa dan senyum untuk kami, untuk Indonesia. []

*Bukan nama sebenarnya
Bagikan