BMKG Perkirakan Kemarau Relatif Lebih Kering Tahun Ini

Kemarau panjang ditambah fenomena El Nino akan jadi penyebab kemarau tahun ini akan lebih kering.

ACTNews, JAKARTA - Sejak Juni lalu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah menyatakan sebagian besar wilayah Indonesia telah masuk musim kemarau. Wilayah-wilayah tersebut di antaranya Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua.

“Total kalau dari 342 zona musim di Indonesia, 77 persen itu sudah masuk musim kemarau. Periode kemarau ini sebenarnya sudah diprediksi oleh BKMG sejak bulan April. Kita merilis bahwa kita akan memasuki musim kemarau dimulai dari bulan Mei sampai Juni di sebagian besar wilayah di Indonesia,” jelas Adi Ripaldi selaku Kepala Sub Bidang Analisis dan Informasi Iklim BMKG, Selasa (2/6).

Adi meminta masyarakat untuk mewaspadai kemarau tahun ini karena diperkirakan oleh BMKG, kemarau saat ini akan relatif lebih kering dibanding tahun lalu. Ditambah El Nino yang telah bertahan semenjak Oktober tahun lalu hingga kini.

“Kita itu memang sedang El Nino, namun skalanya rendah. Tidak sekuat pada tahun 2015 lalu. Namun demikian, dampak El Nino pada umumnya mengurangi curah hujan. Ketika hujan itu dikurangi, akan lebih terasa dampak El Nino di musim kemarau. Sudah kemarau, ada dampak dari El Nino, ya semakin berkuranglah curah hujan di Indonesia,” kata Adi. El Nino sendiri diperkirakan Adi akan berakhir pada Oktober tahun ini.



Indikasi dari periode kemarau ini telah dilaporkan terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Beberapa daerah tersebut telah mengalami hari tanpa hujan (HTH) lebih dari 60 hari. Status daerah yang mengalami 60 hari lebih tanpa hujan digolongan oleh BMKG memasuki status ‘Awas’ dan BMKG mengimbau masyarakat untuk mengantisipasi hal ini.

“Barangkali dampaknya tidak hanya ke pertanian yang membutuhkan irigasi, tetapi bisa jadi dengan adanya HTH yang panjang ini, daerah yang rawan kekeringan juga akan mengalami kekurangan air bersih untuk penghidupan masyarakat sehari-hari,” tutur Adi.

Adi juga menjelaskan antisipasi seperti distribusi air dapat menjadi langkah konkret untuk mengatasi wilayah-wilayah yang sudah mulai mengalami kesulitan air.

Seperti kekeringan yang datang lebih awal di Gunungkidul. Untuk membantu kekeringan yang mulai melanda warga, tim dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) Yogyakarta telah mendistribusikan 50 ribu liter kepada warga pada Kamis (27/6) lalu. Kharis Pradana, Koordinator Program ACT Yogyakarta mengatakan, air tersebut didistribusikan melalui truk tangki yang membawa 5 ribu liter air dalam sekali jalan.

"Memang program dropping air bersih ini bukanlah solusi jangka panjang untuk memutus krisis kekeringan di Gunungkidul, tetapi setidaknya dengan bersama-sama kita memberi bantuan air bersih, bisa meringankan beban masyarakat yang sedang dilanda krisis air bersih,” ujarnya.

Oleh karenanya, solusi jangka panjang juga telah diinisasi Global Wakaf melalui program Sumur Wakaf. Masih di daerah yang sama, yakni Gunungkidul, Yogyakarta, sebuah Sumur Wakaf sudah dapat terasa manfaatnya oleh warga sekitar tepatnya di Desa Jatiayu, Karangmojo yang rawan kekeringan semenjak akhir Januari lalu. Warga kini dapat lebih antisipatif menghadapi kekeringan karena memiliki satu sumber air lagi.



“Terima kasih sebesar-besarnya kepada Global Wakaf-ACT atas bantuan sumur kepada masyarakat dan Jama'ah Masjid Istiqomah. Semoga setiap tetes air mengalirkan pahala jariyah yang tak pernah henti untuk para donatur dan juga sahabat Global Wakaf,” ungkap M. Risdy, tokoh masyarakat setempat.

Senada dengan Kharis, Adi juga lebih menyarankan untuk antisipasi yang lebih bertahan lama karena kemarau baru saja masuk bulan Juni dan akan berlangsung hingga puncaknya di Agustus hingga September mendatang.

“Untuk wilayah-wilayah yang tadah hujan misalkan, artinya wilayah tersebut benar-benar hanya mengandalkan hujan. Kita sudah memperkirakan kapan kemarau mulai dan akan berapa lama berlangsungnya. Wilayah tersebut mestinya bersiap, mungkin mempersiapkan embung, atau sumber-sumber air yang dapat menggantikan ketika hujan berhenti,” pungkas Adi. []