BMKG: Puncak Kemarau Perparah Karhutla

Kemarau membuat lahan-lahan gambut rentan terhadap kebakaran dan juga membuat kebakaran meluas cepat.

Dodo Gunawan menunjuk kapan prakiraan hujan akan turun dari data di ruang CEWS-BMKG. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, JAKARTA - Data dari Climate Early Warning System (CEWS) Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), menggambarkan sebaran titik panas di Indonesia saat ini paling banyak berada di Pulau Sumatra dan Kalimantan. Dodo Gunawan selaku Kepala Informasi Pusat Perubahan Iklim mengatakan, hal tersebut dipengaruhi juga oleh puncak kemarau yang tengah memasuki Kalimantan dan Sumatra. Belum lagi fenomena El Nino yang cukup berpengaruh meskipun dalam level rendah.

“Jadi saat ini musim kemarau, kondisinya kering, tidak ada hujan, dan kondisi ini juga cukup panjang. Jadi dengan kondisi seperti itu, dapat memicu mudahnya lahan terbakar. Apalagi di tempat-tempat yang saat ini banyak kebakaran hutan dan lahan itu memang lahannya gambut. Jadi itu sangat mudah sekali dan sangat rentan,” ujar Dodo di Gedung B BMKG, Jakarta Pusat, pada Selasa (17/9) lalu.

Banyak daerah sekarang ini juga berada dalam keadaan darurat asap. Ia mencontohkan Pekanbaru yang pada saat itu nilai ambang batasnya berada di atas 150 mikron. Menggunakan indikator partikulat (PM10) dari BMKG, kualitas PM10 yang lebih dari 150 mikron dapat dikatakan berbahaya.

“Jadi nilai ambang batas yang diperkenankan untuk PM10 itu 150 mikron. Nah, melebihi nilai (150 mikron) itu, berbahaya untuk kesehatan. Jadi itu yang menyebabkan darurat asap karena konsentrasi dari PM10 yang sudah melebihi ambang batas, sehingga berbahaya untuk kesehatan. Dan itu kita lihat tadi ada di provinsi dengan jumlah hotspot (titik panas) yang sangat banyak,” terang Dodo.


Dodo mengatakan, sejauh ini pemerintah sudah mengantisipasi dampak kabut asap seperti dengan membuat hujan buatan, ataupun mengadakan pemadaman langsung dan water bombing. Meskipun menurutnya, yang paling efektif dari pemadaman asap ini adalah dengan menantikan datangnya musim hujan di wilayah-wilayah tersebut.

“(Hujan ini) sangat-sangat efektif. Begitu kita dapat hujan, sudah hilang (asapnya). Di lahan yang sifatnya gambut, kalau kurang air untuk memadamkannya, cuma permukaannya saja yang padam, tapi di bawahnya masih tetap ada api. Jadi asap akan tetap keluar walaupun api di permukaannya sudah hilang. Beda dengan kebarakan di tanah yang biasa,” kata Dodo.

Begitu juga dengan asapnya. Kata Dodo angin turut menyebarkan asap cukup luas, hingga asap tetap berada di udara dan bertahan di atmosfer bersama dengan partikelnya. Dengan hadirnya hujan, asap dan partikel itu akan tercuci dengan sendirinya.

Musim hujan kata Dodo, datangnya memang berbeda-beda di Indonesia dan ada ratusan musim. Namun ia memperkirakan, musim hujan hampir akan masuk ke hampir se wilayah Indonesia pada rentang bulan Oktober hingga Desember nanti. []