Bolehkah Menjual Daging Kurban?

Daging kurban boleh dijual dengan syarat sudah menjadi milik. Namun, daging hewan kurban tidak boleh dijual apabila belum dibagikan atau belum menjadi hak milik seseorang.

apa boleh menjual daging kurban?
Ilustrasi. Warga di Jakarta Pusat tengah memotong dan menimbang hewan kurban pada momen Iduladha 2021 lalu. (ACTNews/Ubaidillah)

ACTNews, CIREBON – Harga daging di Indonesia terbilang cukup tinggi. Tak heran jika kondisi ini dimanfaatkan sebagian orang untuk menjual daging yang didapat saat momen kurban.

Tetapi sebenarnya, apakah boleh menjual daging kurban? Bagaimana hukumnya? Menjawab pertanyaan ini, ACTNews berkesempatan bertanya kepada ulama yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Al Bahjah Buya Yahya. 

Menurut Buya Yahya, seseorang boleh menjual daging kurban jika sudah menjadi miliknya. Artinya, daging tersebut hasil pemberian dari pengkurban atau panitia kurban. 

"Kalau kita sudah menerima daging kurban (dari pekurban atau panitia kurban), berarti itu milik kita. Boleh kita jual ke mana saja, suka-suka, orang sudah (menjadi) milik kita," kata Buya Yahya saat diwawancarai ACTNews di Pondok Pesantren Al Bahjah Cirebon, Jumat (3/6/2022). 


Buya Yahya menjelaskan, banyak alasan kenapa orang menjual daging kurban. Misalnya, di rumah sudah banyak daging atau yang menerima tidak makan daging. "Kita suka telur, tapi tidak mampu beli telur. Jadi boleh dijual kalau sudah diterima dan menjadi milik kita, boleh juga dikasihkan (ke orang lain)," jelas ulama lulusan Universitas Al-Ahgaff, Hadramaut, Yaman ini. 

Namun, tambah Buya Yahya, yang dilarang itu menjual daging kurban termasuk kulit dan kepala, sebelum dibagikan. Tetapi apabila panitia tidak dapat mengolah kulit karena terlalu banyaknya hewan kurban, pendapat Imam Ahmad bin Hanbal, maka boleh dijual lalu hasil penjualan dibagikan bersama pembagian daging kurban. 

"Bukan untuk upah tukang jagal atau panitia. Tetapi dibagikan kepada orang yang berhak digabung bersama daging kurban," ujar Buya Yahya.[]