Buah Keistikamahan Dakwah Ustaz Ismail di Kutai Kartanegara

Buah keistikamahan Ustaz Ismail memelihara langgar adalah banyak orang tua percaya anaknya dibimbing belajar agama.

dakwah ustaz ismail
Suasana anak-anak sedang mengaji di langgar Al-Muttaqin, tempat Ustaz Ismail berdakwah, di Kelurahan Sungai Merdeka, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara. (ACTNews)

ACTNews, KUTAI KARTANEGARA – Semakin hari, jumlah anak yang datang ke langgar Al-Muttaqin, Kelurahan Sungai Merdeka, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, semakin banyak. Langgar berwarna hijau yang terletak di Jalan Soekarno Hatta, KM 40 sudah ada sejak tahun 1990 dan direnovasi 15 tahun kemudian. 

Penggagas pendirian langgar Al-Muttaqin, Ustaz Ismail, mengatakan, tahun pertama dibangun, anak-anak yang mengaji hanya dua orang. Kedua orang tersebut tak lain adalah anak Ustaz Ismail, yang saat ini membantu mengajar mengaji yakni Ustaz Muzakkar dan Khalid. Meski sepi anak yang mengaji, Ustaz Ismail tetap istikamah mengajar. 

“Sejak anak-anak saya ke pesantren, belum ada lagi yang belajar mengaji. Usai salat fardu, langgar sepi, karena tidak ada kegiatan lain. Jemaah yang datang salat juga enggak banyak, paling tiga orang. Sekitar tahun 2000, baru ada anak lagi yang mengaji, tapi belum banyak dua orang, tiga orang,” kata Ustaz Ismail, Selasa (31/8/2021).

Seiring berjalannya waktu, lanjut Ustaz Ismail, jumlah anak yang mengaji semakin banyak. Hingga saat ini total ada 60 anak yang mengaji saban hari. Tak sanggup mengajar seorang diri, Ustaz Ismail meminta bantuan kedua anaknya yang selesai pesantren untuk mengajar. 

“Saya semakin tua, tenaga sudah tidak prima, sedangkan jumlah yang belajar ngaji semakin banyak. Sekarang, jumlah pengajar ditambah dan waktunya dibagi dua, sore bakda asar dan malam bakda magrib,” ujarnya. 

Abd Khaidir Ali, dari tim ACT Kalimantan Timur mengatakan, semakin banyaknya jumlah santri yang mengaji di langgar Al-Muttaqin, merupakan buah dari kesitikamahan Ustaz Ismail dalam merawat langgar agar tetap hidup. Tak hanya itu, santri yang mengaji juga tidak dipungut biaya.

“Orang tua percaya dan senang menitipkan anaknya untuk dibimbing oleh Ustaz Ismail. Selain itu, belajar juga gratis sehingga mereka tidak perlu memikirkan biaya. Hikmah perjuangan dakwah Ustaz Ismail adalah dakwah itu perlu waktu yang panjang. Di saat yang bersamaan, ketahanan seseorang diuji. Apakah akan istikamah atau menyerah karena merasa tidak kunjung berhasil,” pungkasnya.[]