Budi Suwanda Tembus Hutan dan Seberangi Sungai demi Pendidikan Anak-anak Ciroyom

“Kalau masalah lelah, tentu lelah. Kalau lihat dari sisi lain, melihat anak didik, jadi semangat. Kalau bukan kita siapa lagi? Gak ada guru yang mau ke Ciroyom, mungkin dari jarak tempuh,“ ujar Budi.

Budi menerima Bea Guru Sahabat Guru Indonesia dari Global Zakat-ACT. (ACTNews)

ACTNews, SUKABUMI — Cerita Budi Suwanda sebagai guru honorer di pedalaman Kota Sukabumi bisa jadi inspirasi bagi banyak guru yang berjuang di Indonesia. Budi adalah guru honorer di SDN Ciroyom, desa pedalaman dengan lintasan berbatu hampir di setiap jengkal jalannya.

Budi mengajar di enam kelas berjumlah 54 siswa. Perjuangan Budi bukan hanya mengajar siswa yang banyak, tetapi juga harus menempuh jarak berjam-jam menuju sekolah. 

Ada dua jalur yang biasanya ditempuh guru tiga anak ini, yaitu melewati hutan atau sungai. Dua pilihan jalur sama sulitnya bagi Budi. Jika melewati hutan, ia harus melewati jalanan berbatu selama tiga jam. Jika melewati sungai, perjalanan bisa lebih singkat, tetapi ia harus menunggu air surut hingga kira-kira setinggi betis orang dewasa agar aman menyeberangkan motor. 

Telah 16 tahun Budi mengabdi di SDN Ciroyom. Meskipun, permintaan bantuan guru tidak pernah terkabulkan, ia mengaku, hanya keikhlasan dan semangat agar ‘anak-anak Ciroyom mendapatkan pendidikan’ yang membuatnya bertahan menjadi guru satu-satunya di SDN Ciroyom. 

“Kalau masalah lelah, tentu lelah. Kalau lihat dari sisi lain, melihat anak didik, jadi semangat. Kalau bukan kita siapa lagi? Gak ada guru yang mau ke Ciroyom, mungkin dari jarak tempuh,“ ujar Budi saat ditemui ACTNews, Sabtu (13/3/2021).


Dalam mengajar, Budi mengutamakan siswa kelas 1, 2, dan 3 dengan fokus belajar membaca, menulis dan berhitung. Anak di Ciroyom tidak menempuh Pendidikan TK, sehingga butuh usaha lebih untuk mengenalkan calistung. Alat peraga mengajar juga digunakan Budi seadanya.

Diakui Budi, hal menyenangkan yang ia rasakan dari kegiatan mengajarnya ini adalah saat ia bisa melihat anak didiknya mampu membaca dan menulis. Momen ini menjadi kesyukuran tersendiri yang tak bisa bayar dengan harga berapapun.

Kedekatan emosional dengan anak-anak di Ciroyom membuat Budi tidak putus semangat menjadi Guru SDN Ciroyom. Ia juga tidak menerima tawaran pekerjaan lain. “Kita merasa gak tega harus meninggalkan anak-anak. Harapan saya, pemerintah bisa melihat bahwa di Indonesia masih ada daerah yang kekurangan guru. Dengan satu orang guru tidak mungkin kita melaksanakan kegiatan belajar secara maksimal. Saya harapkan ada guru lain yang mau kesini,” tambah Budi.

 Bantuan Biaya Hidup Untuk Budi 

Perjalanan panjang menuju Ciroyom ditempuh tim ACT untuk menyampaikan beaguru kepada Budi. Ketua Program Global Zakat-ACT Sukabumi Resdiana Pratama menjelaskan, beaguru diharapkan bisa bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari Budi, di samping mengandalkan gaji dari status honorer yang tidak menentu.

“Pak Budi menjadi representasi salah satu guru yang berjuang ikhlas untuk mengajar anak-anak di pedalaman,” ujar Resdiana, Diakui Resdiana, untuk bisa melakukan asesmen mengenai Budi, dibutuhkan usaha ekstra dari tim ACT agar bisa dilakukan asesmen. 

Selain Budi, ada 20 guru honorer lain di Sukabumi yang telah menerima bantuan beaguru. Beaguru Sahabat Guru Indonesia menjadi apresiasi kepada guru-guru yang telah mengabdikan diri untuk pendidikan di seluruh daerah di Indonesia. Resdiana berharap, dengan bantuan para dermawan, lebih banyak guru yang terbantu.[]