Bukan Dakwah, Inilah Pekerjaan Utama Para Dai

Kegiatan dakwah mengajarkan anak-anak mengaji bagi para dai di kampung bukanlah sebuah pekerjaan, melainkan semata-mata ibadah. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, para dai mempunyai caranya masing-masing. Mulai dari bertani, memelihara kambing, hingga berdagang.

pekerjaan utama dai
Ustaz Sugiman saat sedang berjualan sayur keliling. (ACTNews)

ACTNews, BANTUL – Kegiatan dakwah mengajarkan anak-anak mengaji bagi para dai di kampung bukanlah sebuah pekerjaan. Melainkan pengabdian semata yang senantiasa dijalani dengan sepenuh hati dan tidak berharap imbalan. 

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, para dai mempunyai caranya masing-masing. Mulai dari bertani, memelihara kambing, hingga berdagang. Meski uang hasil dari pekerjaannya ini tidaklah besar, namun para dai tetap konsisten mengajar dan tidak terbesit memungut imbalan. 

Salah satu pengajar mengaji di Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Ustaz Sugiman saban hari pukul 05.00 WIB harus sudah di pasar untuk berbelanja sayuran. Nantinya, sayuran yang ia belanjakan akan dijual keliling ke beberapa desa yang ada di Kecamatan Dlingo menggunakan sepeda motor. 

“Untungnya alhamdulillah cukup untuk makan sehari-hari dan bayar listrik. Yang penting modal balik, meski untung enggak gede. Siang sudah pulang dan istirahat,” kata Ustaz Sugiman saat ditemui tim ACT Bantul, Rabu (22/9/2021). 

Bagi Ustaz Sugiman, inilah (menjual sayuran) pekerjaan utamanya. Baginya, mengajar mengaji saban sore hanyalah aktivitas yang ia orientasikan untuk ibadah. “Jadi santri yang ngaji, gratis,” jelasnya. 

Sementara itu, Ustaz Asep Juli di Limbangan, Kecamatan Sukaraja, Kota Sukabumi saban hari memelihara kambing milik orang. Urusan pakan dan kebersihan kandang menjadi tanggung jawabnya. Nantinya, Ustaz Asep akan dibayar dengan anak kambing yang lahir. 

“Jadi bayarannya itu kambing. Kalau ada kambing lahir dua, satunya buat saya satunya lagi buat yang punya kambing. Dari sinilah biaya makan keluarga, dibantu istri juga yang jual makanan ringan depan rumah,” kata pria tiga anak ini. 

Santri yang mengaji di rumah Ustaz Asep berjumlah 25 orang. Pengajian dibagi dua sesi, bakda asar bagi yang mengaji iqro dan Al-Qur’an, bakda maghrib untuk santri yang mengaji kitab kuning. “Semuanya gratis, yang penting datang ke rumah,” jelasnya. 

Berbeda dengan Ustaz Asep, Ustaz Fauzan Ardi pengajar pondok pesantren Riyadul Huda di Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi memilih pekerjaan sebagai petani. Dari hasil pertaniannya, kehidupan keluarga dan 30 santri yang ia bimbing tercukupi. 

“Santri yang tinggal di pesantren tidak dikenai iuran wajib. Makan dari hasil panen sawah pribadi, alhamdulillah cukup,” ungkapnya.

Para dai ikhlas melakukan dakwahnya. Bahkan saat sulit pun, mereka tidak akan pernah menampakkan kesulitannya. Untuk mensejahterakan para dai, Majelis Ulama indonesia (MUI) meluncurkan Gerakan Nasional Sejahterakan Dai Indonesia. Mendukung gerakan ini, ACT akan memberikan bantuan kepada 1.000 dai.[]