Cadbury dan ACT Ajak Masyarakat Berbagi Harapan dengan Aksi

Program tersebut merupakan pembagian 200.000 paket nutrisi tambahan untuk anak-anak yang mengalami malnutrisi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Cadbury dan ACT Ajak Masyarakat Berbagi Harapan dengan Aksi' photo

ACTNews, JAKARTA – Mondelez Internasional, perusahaan makanan ringan global ternama melalui produk unggulan Cadbury, meluncurkan program “Berbagi Harapan dengan Aksi” pada Kamis (15/8). Program tersebut merupakan pembagian 200.000 paket nutrisi tambahan  untuk anak-anak yang mengalami malnutrisi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Peluncuran program “Berbagi Harapan dengan Aksi” digelar di Mall Gandaria City Mini Atrium LG, Jakarta.

Hadir dalam acara tersebut adalah Nicholas Saputra, aktor terkemuka yang menjadi brand ambassador program ini. Selain itu, hadir pula dr. M. Riedha dari Tim Medis ACT, Sabrina Purba selaku Brand Manager Chocolate Mondelez Indonesia, Nur Rachman selaku Corporate Communication General Manager Alfamart, dan sejumlah awak media. 

Dalam paparannya, Sabrina Purba mengungkapkan bahwa program ini mengusung semangat berbagi kebaikan yang telah melandasi Cadbury sejak tahun 1824. “Kami percaya bahwa ‘There is glass and half in everyone’, yang artinya ada kebaikan pada setiap individu dan kebaikan, dapat mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik,” tuturnya.

Menurut  dr. Riedha, 200.000 paket nutrisi tambahan yang merupakan dukungan dari masyarakat Indonesia ini akan diberikan kepada 1.000 anak yang mengalami malnutrisi di Provinsi NTT. Paket nutrisi tambahan tersebut terdiri dari susu, telur, kacang hijau, dan gula aren yang akan didistribusikan ACT setiap dua minggu sekali selama 4 bulan. 

Dr. Riedha menambahkan kegiatan ini masuk dalam program Tepian Negeri, program ACT di wilayah terpencil Indonesia, khususnya di kawasan timur Indonesia yang masih prasejahtera.  

“Kenapa kami implementasikan program ini di NTT? Karena menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, proporsi status gizi buruk dan gizi kurang mencapai mencapai 17,7 persen, dengan angka gizi buruk dan gizi kurang terbanyak berada di wilayah Nusa Tenggara Timur, yakni 42,6 persen,” ungkap dr. Riedha.  


Dr. Riedha mengungkapkan, ada beberapa tahapan dalam implementasi program ini, yakni tahapan pemulihan dan tahapan konsultasi.“Di masa pemulihan ini kami akan melakukan asesmen awal dari data sekunder yang ada. Data ini kami kumpulkan dan kami bersinergi dengan instansi terkait, seperti puskesmas dan rumah sakit setempat. Sinergi ini untuk mencarikan data primer yang nantinya untuk memberikan layanan kesehatan. Nah dari sana akan terdeteksi mana anak yang terindikasi gizi kurang dan gizi buruk. Setelah data primer nanti kita akan masuk ke tahap konsultasi, setelah itu baru kita melakukan intervensi,” terangnya. 

Sementara itu Nicholas Saputra memaparkan, kawasan Flores  NTT yang menjadi wilayah implementasi program ini, merupakan kawasan yang sangat indah memiliki potensi budaya yang luar biasa. Namun, keindahan ini berbanding terbalik dengan kondisi masyarakatnya.

“Masyarakatnya terancam bahaya yang kalau kita tidak perhatikan, yaitu SDM-nya. Seperti data yang tadi disebutkan. Kalau tidak ada langkah kecil yang kita lakukan sejak sekarang sayang sekali. Karena nanti kita mungkin ngomong 5 tahun lagi hingga 10 tahun lagi.  Bagaimana masyarakat disana bisa siap untuk mengembangkan daerahnya agar lebih sejahtera karena sebenarnya mereka punya potensinya besar sekali,” pungkas Nicholas.

Nicholas menambahkan, partisipasi aktif dari berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk memberikan harapan bagi anak-anak yang mengalami malnutrisi di sana. []

Bagikan