Cara Berinvestasi untuk Hari Akhir

Allah telah mememberikan sebuah jalan bagi umat muslim untuk menyelamatkan mereka dari azab yang pedih di hari akhir nanti. Jihad harta adalah salah satu caranya.

Ilustrasi. Presiden Aksi Cepat Tanggap Ibnu Khajar memberikan makanan siap santap kepada penerima manfaat, warga Lenteng Agung, Jakarta, pada Ramadan 2020 lalu. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, JAKARTA – Ketika seseorang dijanjikan sebuah investasi dengan keuntungan berlipat, tentu orang tersebut akan dengan senang hati menyambutnya. Apalagi jika yang menjanjikan itu adalah orang yang terpercaya. Tanpa pikir panjang, modal kemudian akan ditanam.

Konsep ini juga ditawarkan Allah dalam Alquran. Imbal baliknya bahkan melebihi investasi jangka panjang. Allah berfirman dalam Surat As-Saff ayat ke 10, ‘Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?’

“Ada investasi yang dijamin tidak mungkin rugi. Bukan sekedar menguntungkan kehidupan yang sementara, tetapi menguntungkan kita di akhirat yang kekal nanti,” demikian jelas Ustaz Faris BQ dalam Kajian Peradaban Rabu (31/3/2021).

Lalu bagaimana cara berinvestasi untuk akhirat? Allah memberikan petunjuk melalui ayat selanjutnya yakni As-Saff ayat ke-11. ‘Yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu,’ makna jihad dalam ayat ini dimulai dengan beriman kepada Allah SWT.

Lebih jauh Ustaz Faris menjelaskan, ketika periode kedua hijrah ada dua syariat yang menjadi jalan pembuka jihad di jalan Allah. Yang pertama adalah berpuasa, di mana dengan berpuasa dapat melatih setiap muslim untuk berani meninggalkan kenikmatan duniawi.

“Melalui puasa, Allah mengajarkan kepada kita cara menahan diri dari dunia walaupun ada di depan kita. Walaupun sebenarnya sehari-hari itu halal bagi kita, tetapi kita rela meninggalkan itu karena Allah SWT. Kita rela mengatur hasrat hawa nafsu kita untuk Allah SWT,” jabar Ustaz Faris.

Kedua, yaitu zakat. “Manusia sebenarnya tidak suka diatur. Kenapa jika dia memiliki harta dengan jumlah tertentu, ia wajib berzakat? Namun, Allah SWT mendidik hati orang yang beriman. Ketika hati ini telah beriman kepada Allah SWT, maka sebenarnya ia akan lebih mudah mengorbankan apa saja,” kata Ustaz Faris.

Dengan cara-cara inilah manusia bisa menanam bekal yang akan dituainya setelah melewati kehidupan dunia ini. “Telah ditentukan jatah rezeki kita dalam kehidupan. Namun kemudahan dan kerelaan hati untuk melepas apa yang sudah ada di tangan, adalah keterampilan yang hanya bisa diperoleh oleh orang-orang yang kuat,” pesan Ustaz Faris. []