Catatan Dakwah Kusnandar, Dai Tepian Negeri di Weliman, NTT

Bagi Kusnandar (58) hidup berdampingan dengan masyarakat yang berbeda keyakinan adalah lahan untuk berdakwah. Kus—sapaan akrabnya—menceritakan, kondisi masyarakat Malaka saat ini sudah banyak berubah. Saat ia datang 20 tahun lalu, masyarakat melihat dirinya sebagai ancaman.

Kusnandar dai tepian negeri
Kusnandar. (ACTNews/Muhamad Ubaidillah)

ACTNews, MALAKA — Bagi Kusnandar (58) hidup berdampingan dengan masyarakat yang berbeda keyakinan adalah lahan untuk berdakwah. Kusnandar datang ke Weliman, Kabupaten Malaka, pada tahun 2000. Saat itu, ia menjadi bagian dari pembangunan jembatan Benenain— yang saat ini miring akibat diterjang banjir bandang.

Kus—sapaan akrabnya—menceritakan, kondisi masyarakat Malaka saat ini sudah banyak berubah. Saat ia datang 20 tahun lalu, masyarakat melihat dirinya sebagai ancaman. Kondisi ini dialami Kus selama 18 tahun. Ia beberapa kali dilaporkan ke pihak berwajib dengan alasan tidak menentu. 

"Saya sering dilaporin ke polisi, alasannya sepele. Paling baru gara-gara saya lepas batako di jalan buat kubur pipa paralon, kalau ditaro di atas kan bisa pecah, kena motor atau orang lewat, jadi saya mau kubur. Lagi proses pemasangan, azan duhur, saya tinggal salat sebentar. Ternyata difoto orang, dikirim ke polisi, saya dipanggil dengan alasan perusakan fasilitas umum," kata Kus saat ditemui ACTNews di Masjid Nurussalam Malaka usai salat zuhur, Kamis (15/4/2021).

Namun, ]Kus urung masuk bui lantaran warga demo di depan kantor Polsek Weliman. Menurut ]Kus, saat itu warga protes, lantaran apa yang dilakukannya bukanlah sebuah kesalahan. "Saya nangis, ternyata selama ini banyak warga yang peduli sama saya daripada mereka yang tidak suka," ujar pria asal Surabaya ini.

Jalan Dakwah

Ihwal penyebab kepedulian warga terhadapnya, \Kus tidak tahu pasti. Hanya saja, selama ini sumur bor miliknya dimanfaatkan oleh tetangga-tetangganya yang kesulitan mendapatkan air. Kus tidak pernah memungut biaya satu rupiah pun dari mereka. Bagi \Kus, selain amal jariyah, juga jalan dakwah. 

"Di rumah, saya yang punya sumur bor. Tetangga-tetangga ambil air ke saya, saya izinkan. Mereka balas dengan beri buah-buahan atau hasil bumi yang mereka dapat dari kebun juga hutan. Jadi itu jalan melunakkan hati mereka, mulai peduli, sedikit demi sedikit, mudah-mudahan Allah kasih hidayah," jelasnya.

Kus dan istri menjadi satu-satunya keluarga muslim yang tinggal di Desa Haitimuk, Kecamatan Weliman, Kabupaten Malaka, NTT. Istri Kus memeluk agama Islam sejak dipersuntingnya pada tahun 2009. Bahkan, Kus dan istri tinggal satu atap dengan mertua dan adik iparnya yang berbeda keyakinan.

Kus dan warga di Desa Haitimuk juga terdampak cuaca buruk yang menyebabkan sejumlah bencana di NTT beberapa waktu lalu. Usai bencana, sumur Kus juga menjadi andalan warga dalam memperoleh air bersih. Kus yang membuka warung kelontong juga tidak meningkatkan harga bahan makanan pokok walau daerahnya sempat tidak bisa diakses karena jembatan Benenain yang rusak.[]