Catatan Kemanusiaan 2020: Sinergi Antarlini yang Menggugah Nurani

Sepanjang tahun 2020, yang dianggap sebagai tahun penuh keprihatinan karena pandemi Covid-19, kemerosotan ekonomi, hingga bencana alam, masih banyak masyarakat Indonesia yang bersikap dermawan. “Sejak pertengahan Maret, masyarakat yang berpartisipasi mendukung gerakan filantropi di tengah-tengah kondisi ini naik 154 persen,” ungkap Ketua Dewan Pembina ACT Ahyudin.

Operasi Pangan Gratis menjadi salah satu program paling kolaboratif yang diinisiasi Aksi Cepat Tanggap pada 2020. OPG kemudian meluas menjadi Humanity Care Line yang turut membuka kesempatan masyarakat berpartisipasi di dunia kemanusiaan sebagai layanan pelanggan. (ACTNews/Gina Mardani)

ACTNews, JAKARTA – Kehadiran Cina di Laut Natuna lebih membuat geger masyarakat Indonesia pada awalnya. Sebuah isu yang cukup membuat Aksi Cepat Tanggap mengambil langkah kemanusiaan kala itu. Kolaborasi dengan TNI Kodim 0138 menjadi sinergi yang mengawali gerak Aksi Cepat Tanggap di tepian negeri awal tahun 2020.

Ikhtiar tersebut diwujudkan dengan memberangkatkan Tim Aksi Bela Indonesia untuk Natuna pada Selasa (7/1). Di Natuna, tim menyapa para penjaga negeri di wilayah paling utara Selat Karimata, yakni Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, dan membagikan bantuan paket pangan untuk nelayan.

Bupati Kabupaten Natuna Abdul Hamid Rijal hadir dalam kegiatan silaturahmi dan makan bersama yang diselenggarakan Aksi Cepat Tanggap di Kodim 0318 Kabupaten Natuna, Jumat (10/1). Selain Bupati, sejumlah pimpinan daerah juga hadir. Ada Ketua DPRD Kabupaten Natuna Andes Putra dan Kapolres Natuna AKBP Nugroho D. Karyanto.

Dua minggu setelah kepulangan tim ACT dari Natuna, lagi-lagi China menggegerkan Indonesia dengan virus corona baru asal Wuhan. Tim ACT di Jakarta segera mengambil bagian dengan melakukan edukasi  dan membagikan dua ribu masker kepada pengunjung Bandara Soekarno Hatta, Tangerang,  akhir Januari silam.

Relawan MRI Jember melakukan penyemprotan disinfektan di Pura Agung Amerta Sari Jember. (ACTNews/ Zaynul Asror)

Terminal-3 Bandara Soekarno-Hatta dipilih ACT sebagai tempat aksi karena lokasi tersebut menjadi gerbang mobilisasi penumpang internasional. “Semoga hal ini juga memiliki efek multiplikasi di tempat-tempat lain, juga meningkatkan kesadaran masyarakat agar lebih waspada dan lebih memproteksi dirinya,” jelas dokter Muhamad Riedha, Ketua Tim Medis Penanganan Covid-19 ACT, saat itu.

Aksi pembagian masker kemudian meluas ke luar negeri. ACT merespons kebutuhan masker yang sangat tinggi dari WNI. Sebanyak 1.210 pak masker dikirim ke Hong Kong, 300 pak masker ke Taiwan, 100 pak masker ke Singapura, dan 260 pak masker ke Korea Selatan. Tentunya aksi ini bekerja sama dengan serikat pekerja migran Indonesia di berbagai negara. Bahkan, mendapat apresiasi dari Duta Besar Indonesia di Korea Selatan.

Umar Hadi, Duta Besar Indonesia untuk Korsel dalam surat terima kasihnya mengatakan, masker dari ACT akan didistribusikan ke wilayah paling parah terpapar Covid-19, yakni Daegu dan kota-kota lain di Provinsi Gyeongsangbuk.

“Bantuan masker dari ACT ini tidak hanya melindungi WNI dari virus berbahaya, tapi juga mengurangi kelangkaan masker yang terjadi di Korsel,” tulis Umar.

Tidak melupakan masyarakat dalam negeri, ACT segera menggagas posko nasional Bersama Lawan Corona dan membuat berbagai gerakan kemanusiaan. Presiden Aksi Cepat Tanggap Ibnu Khajar menerangkan, Posko Nasional Bersama Lawan Corona dibentuk untuk melayani masyarakat, baik untuk memberikan bantuan secara langsung, maupun sekedar memperoleh informasi.

Anak-anak dari keluarga prasejahtera di Gaza menjadi salah satu penerima zakat fitrah dermawan Indonesia yang disalurkan melalui Global Zakat - ACT. Zakat fitrah juga diterima lansia dan difabel di Gaza, Selasa (19/5). (ACTNews)

Posko Nasional Bersama Lawan Corona juga berkolaborasi dan mendapat dukungan dari Tentara Nasional Indonesia. Ibnu menerangkan, pihak pimpinan ACT terus menjalin komunikasi dengan Markas Besar TNI.

Dalam eskalasi aksi menangani pandemi, ACT terus melakukan kolaborasi dengan berbagi lini, antara lain dengan Pemerintah DKI Jakarta, Dinas Kesehatan berbagai provinsi, perusahaan ojek daring Grab, Badan Usaha Milik Negara Pertamina, produsen  makanan dan perawatan tubuh Unilever,  produsen susu Frisian Flag, hingga kontraktor pertambangan BUMA.

Tidak disangka, program Operasi Pangan Gratis, Operasi Makan Gratis, dan Operasi Beras Gratis menggugah semangat kedermawanan masyarakat Indonesia. Kurang lebih, 1.869.850 kilogram beras dan 5.480 aksi distribusi makanan siap santap menjangkau 2.348.767 penerima manfaat di 39 kabupaten/kota sepanjang 2020. Kegiatan ini juga melibatkan 13.832 relawan.

Selama pandemi, ACT juga mendukung aksi paramedis dengan menyediakan seperangkat alat pelindung diri, Humanity Food Truck, dan dukungan untuk keluarga para medis yang gugur.

Maret lalu, seribu makanan bergizi disuplai Humanity Food Truck Aksi Cepat Tanggap untuk makan malam paramedis dan petugas di rumah sakit darurat Wisma Atlet. Beriringan, bantuan APD gencar dibagikan ke berbagai fasilitas kesehatan, antara lain di Surabaya, Bengkulu, Jakarta, hingga Maluku. Bahkan, terbatasnya APD bagi petugas medis selama penanganan Covid-19 menjadi alasan lembaga kemanusiaan Mercy Relief asal Singapura bersama HP Foundation menyediakan bantuan swab booth atau bilik tes usap. Menggandeng ACT Sulawesi Selatan, bilik tes usap didistribusikan ke sejumlah rumah sakit di Sulawesi Selatan.

Sementara itu, di Bekasi, keluarga perawat Letkol (Kowal) Mulatsih dan keluarga perawat Nurlaela, menjadi keluarga pertama yang ACT datangi untuk menyatakan bela sungkawa. Kedatangan ACT saat itu bersama organisasi Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

“Atas kerja keras dan dedikasi pengabdian perawat-perawat Indonesia yang menangani wabah Covid-19, kami memberikan apresiasi yang tinggi. Sebagaimana Florence Nightingale tahun 1870 memberi pesan pada dunia, perlu waktu 150 tahun, untuk membuktikan kebaikan perawat pada dunia, dan hari ini tepat 150 tahun ucapan itu, mari kita buktikan,” ujar Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia Harif Fadhilah, April lalu.

Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan dan Hari Kesehatan 2020, di Jawa Tengah, ACT menganugerahkan tanda jasa penghargaan kepada dua orang perawat. Mereka adalah pahlawan medis yang menangani pasien Covid-19 di rumah sakit rujukan utama Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Kariadi, Kota Semarang.


Pemberian Tali Asih kepada salah satu keluarga tenaga medis yang ditinggalkan. (ACTNews)

Kedua pahlawan medis tersebut adalah Almarhumah Rina Iswati Wuryaning Wulan, S. Kep., Ners dan Almarhumah Nuria Kurniasih, AMK. Keduanya berpulang kehadirat Yang Maha Esa setelah dinyatakan positif Covid-19 pada April lalu.

“Tali asih untuk keduanya diberikan sebagai bagian dari dukungan untuk keberlanjutan pendidikan anak-anak yang ditinggalkan maupun pemenuhan kebutuhan keluarga,” ungkap Hamas Rausyanfikr dari Tim Program ACT Jawa Tengah.

ACT juga melakukan disinfeksi di berbagai sarana publik, mulai dari halte, sekolah, hingga rumah ibadah. Berkolaborasi dengan Komunitas Pemuda Lintas Agama Peace Leader Indonesia, ACT dan MRI Jember melakukan disinfeksi sejumlah rumah ibadah di Jember. 

Saat itu, Koordinator Peace Leader Jember Redy Saputro menerangkan, kolaborasi yang dilakukan Peace Leader dengan ACT Jember didasari fakta masih banyak tempat ibadah di Jember yang belum terjangkau disinfeksi, seperti pura, gereja, vihara, dan klenteng, terutama tempat ibadah di pinggiran Kota Jember.

“Kami berharap, kolaborasi ini dapat memperluas jangkaun penyemprotan disinfektan ke berbagai tempat ibadah. Hingga saat ini, masih banyak tempat ibadah yang belum mendapat layanan penyemprotan disinfektan. Melalui disinfeksi ini kami juga berharap adanya rasa aman bagi sejumlah masyarakat yang datang menjalankan ibadah,” ungkap Redy.

Pandemi belum juga merada. Masuk ke Ramadan dan Idulfitri, umat Islam harus menjalankan salat Id di rumah saja. Namun, kedermawanan tidak putus. Sepanjang Ramadan hingga Idulfitri, ACT menyalurkan ribuan amanah dermawan.

Di luar negeri ACT mengantarkan hadiah Idulfitri dan zakat fitrah. Bahkan di hari-hari Ramadan ada juga iftar, dari Palestina, Suriah, Yaman, Uighur, Rohingya, hingga negeri-negeri di Afrika.

Jauh sebelum itu, ACT senantiasa mengantarkan bantuan kemanusiaan lintas negara. Mulai dari kebutuhan kesehatan, pendidikan, minum, dan pangan. Direktur Global Humanity Response - ACT Bambang Triyono melaporkan, pada 2020, jangkauan penerima manfaat program-program kemanusiaan ACT mencapai 1.340.149 jiwa dan melibatkan 2.552 relawan.

Berpartisipasi atas musibah kemanusiaan internasional, tidak melulu di luar negeri. ACT juga membersamai pengungsi Rohingya yang terdampar di Aceh dengan mengerahkan bantuan kemanusiaan, baik dari pangan maupun kesehatan. Saat itu, ACT mengerahkan Humanity Food Truck dan Ambulans Pre-Hospital. Perjalanan kemanusiaan itu kemudian dilanjut oleh ACT Lhokseumawe.

Menjelang akhir tahun, ACT mengajak segenap bangsa Indonesia untuk bangkit. Melalui gebrakan gerakan "Bangkit Bangsaku". ACT mengajak masyarakat berkolaborasi pada sosial, ekonomi, dan kesehatan. Gerakan ini semakin dipertajam dengan Gerakan Nasional Lumbung Sedekah Pangan. Individu, komunitas, hingga korporasi terlibat dalam gerakan ini.

Kini, 2020 tinggal menghitung hari. Perjalanan panjang satu tahun ini mencerminkan bahwa kebaikan terus ada membersamai yang membutuhkan. Akankah di tahun depan kita semakin dermawan?[]