Cerita Badriah, Perjuangan Guru Honorer di Kala Pandemi Covid-19

Profesi guru sudah Badriah lakoni selama tujuh tahun. Ia mengajar di sekolah dari Senin hingga Jumat. Dalam sebulan, Badriah menerima gaji tidak tentu. Karena disesuaikan dengan jumlah kehadiran dan jam mengajar.

badriah guru honorer
Badriah (kanan) saat berbincang dengan tim Global Zakat-ACT. (ACTNews)

ACTNews, SUBANG – “Pandemi Covid-19 menuntut orang berlomba-lomba agar bisa bertahan hidup. Baik bertahan hidup dengan menjaga kesehatan atau menjaga agar ekonomi tetap ada.” Begitulah kesimpulan Badriah, guru honorer SDIT Miftahul Ulum Subang. 

Sebelum pandemi, ia dan suami saban hari bangun pukul 02.00 dini hari. Menyiapkan bahan-bahan makanan untuk dijual oleh suami di kantin sekolah SMP negeri di Subang. Rutinitas tersebut sudah tidak ia jalani lagi setelah sekolah tatap muka ditiadakan. 

Kini sang suami bekerja serabutan, mulai dari berjualan keliling hingga menjadi kuli bangunan. “Ini semata-mata agar dapur tetap ngebul dan bisa beli kuota belajar anak-anak,” kata Badriah saat ditemui tim Global Zakat-ACT,  Selasa (31/8/2021). 

Profesi guru sudah Badriah lakoni selama tujuh tahun. Ia mengajar di sekolah dari Senin hingga Jumat. Dalam sebulan, Badriah menerima gaji tidak tentu. Karena disesuaikan dengan jumlah kehadiran dan jam mengajar. 

Kini, Badriah membuka jasa belajar privat dengan bayaran Rp30 ribu per pertemuan. “Waktu lesnya sore setelah pulang mengajar dan di akhir pekan,” ujarnya. 

Selain les, tiga bulan terakhir, Badriah mencoba peruntungan menjadi reseller makanan beku seperti sosis, nuget, kentang siap goreng, otak-otak, bakso, dan tempura, ia jajakan secara daring di marketplace dan di media sosial. Badriah mengambil keuntungan Rp3 ribu sampai Rp5 ribu per bungkusnya. 

“Meski (untung) tidak banyak, alhamdulillah ada saja yang beli. Kendalanya, saya tidak bisa harga lebih tinggi dari pasaran karena bisa tidak laku. Saya ini menjadi orang kedua, atau bahkan ketiga yang menjualnya (makanan beku) jadi sulit laku kalau pasang harga terlalu tinggi,” pungkasnya.[]