Cerita Dadang, Pedagang Cilok Keliling yang Sepi Pembeli

Pembatasan kegiatan yang diberlakukan di Kota Bogor, Jawa Barat, berdampak pada penghasilan usaha bakso cilok Dadang (40), penghasilannya menurun. Demi makan keluarganya, ia pun harus berhemat.

Dadang (40) penjual bakso cilok, menerima makanan siap santap Operasi Makan Gratis dari Gerakan Nasional MUI dan ACT di Kota Bogor, Jawa Barat. (ACTNews/Muhamad Ubaidillah)

ACTNews, KOTA BOGOR – Pembatasan kegiatan yang diberlakukan di Kota Bogor, Jawa Barat, berdampak pada penghasilan para pekerja harian. Dadang (40), salah seorang penjual bakso cilok di Kota Bogor juga merasakan dampak pemberlakuan pembatasan kegiatan.

“Justru bagi kami para pedagang kecil, ruang geraknya terbatas juga,” ungkap Dadang kepada tim ACTNews, pada Sabtu (31/7/2021).

Sepi pembeli membuat penghasilan dari usaha bakso ciloknya menurun drastis. Dari yang biasa dapat omzet Rp300 ribu, Dadang mengaku saat ini hanya maksimal Rp 150 ribu. ”Ini harganya Rp3-5 ribu. Ya kita mensyukuri aja lah apa yang kita dapat hari ini, syukuri aja apa adanya,” tutur Dadang.

Bapak yang sudah berjualan bakso cilok selama lima tahun itu mengaku, saat ini ia tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya. “Anak saya ada tiga, yang masih sekolah itu anak terakhir kelas satu SMA. Kalau kebutuhan makan ya biasanya kalau kelas-kelas kita paling sama ikan asin sama telor paling mewah,” ceritanya.

Sabtu siang itu menjadi salah satu hari yang disyukuri Dadang. Ia menerima makan siang gratis Operasi Makan Gratis Aksi Cepat Tanggap. Ia pun berharap kondisi semakin membaik agar usahanya bisa kembali meningkat.[]