Cerita dari Longsor dan Banjir Pangkalan Koto Baru

Cerita dari Longsor dan Banjir Pangkalan Koto Baru

ACTNews, LIMAPULUH KOTA - Jalur penghubung antara Riau dan Sumatera Barat itu meliuk-liuk. Tikungannya tajam membelah pegunungan yang mendominasi Jalur Tengah Sumatera. Bahkan di ujung jalan ini pula ada sebuah jalur eksotis berkelok yang masyhur dikenal; Jalur Kelok 9. Akan tetapi di jalur berkelok inilah, Jumat (3/3) kemarin duka pertama meledak di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Tanah longsor dan banjir bandang terjadi hampir bersamaan.  

Saat rintik hujan masih deras, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari bukit yang memanjang di tepian Jalur Tengah Sumatera ini. Hanya hitungan detik, tebing tanah setinggi puluhan meter amblas menerjang jalan raya Sumbar-Riau Km.17.

Mirisnya lagi, saat itu jalan nasional penghubung dua provinsi ini sedang dalam kemacetan panjang. Tak tanggung-tanggung sejumlah mobil terseret dan tertimpa jatuh ke jurang sedalam puluhan meter.

Enam orang dilaporkan tewas tertimbun longsoran tanah. Dua korban lainnya ditemukan selamat dengan kondisi luka-luka. Seluruh korban ditemukan tidak berdaya di balik mobil-mobil yang hancur ditimbun longsoran.

Ahad (4/3) sejak siang sampai sore, tim Disaster Emergency Response ACT ditambah sejumlah relawan dari Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Padang dan Pekanbaru berjibaku di balik longsoran tanah ini. Sudah hari kedua Tim ACT dan MRI bergabung bersama Basarnas, TNI, POLRI, dan BPBD Sumbar menapaki tanah lumpur di tebing curam kilometer 17.  

Melangkah di tebing curam yang baru saja ditimpa longsoran tentu tak bisa sembarangan. Struktur tanah masih sangat labil dengan kemiringan curam. Apalagi tanah masih sangat becek sisa hujan berhari-hari kemarin.

Tim bergerak dengan hati-hati menggunakan perangkat pengaman yang lengkap. Dari helm, masker sampai sepatu boot tak boleh sama sekali lepas dari badan. Untuk aksi pencarian korban di titik longsor Km. 17 Jalur Sumbar-Riau, ACT dan MRI menurunkan tim gabungan 13 punggawa.

"Sampai hari ini enam korban ditemukan tewas, dua luka. Tapi satu orang lagi masih dikabarkan hilang. Bahkan sepanjang hari ini ada beberapa mobil lagi yang kemungkinan tertimbun tanah. Waktu kejadian longsor besar, jalan sedang macet parah. Kita belum pegang data pasti berapa jumlah mobil yang tertimbun di dalam longsoran,” ungkap Fadly salah satu relawan MRI-ACT asal Padang dihubungi via telepon, Senin (6/3).

Sementara itu, Ahad sore (5/3) kemarin tim emergency response ACT juga menjangkau salah satu titik terisolir karena banjir di Kecamatan Pangkalan Koto Baru. Menembus lokasi dengan menggunakan jalur sungai untuk mengirimkan logistik makanan.

Senin (6/3) atau hari keempat sejak banjir bandang dan longsor menggulung Kabupaten Limapuluh Kota, sisa banjir masih menghampar. Apalagi malam gelap total di Kecamatan Pangkalan karena listrik padam. Perusahaan Listrik Negara belum menyalakan listrik di banyak titik Kab. Limapuluh Kota.

Kusmayadi, leader tim Emergency Response ACT di Limapuluh Kota mengabarkan, warga terdampak banjir di Kecamatan Pangkalan sedikitnya berjumlah 2.000 jiwa. Logistik untuk pengungsi paling dibutuhkan berupa air bersih dan makanan siap saji.

Serupa dengan titik banjir lainnya, Aksi Cepat Tanggap bertahan di Kabupaten Limapuluh Kota tidak hanya bergelut di fase darurat bencana saja. Masih ada rencana jangka panjang pemulihan pasca banjir hingga berpekan-pekan ke depan.

“Sementara sampai hari Senin ini kami masih fokus untuk evakuasi korban longsoran, distribusi logistik untuk korban banjir, pendataan jumlah kerusakan infrastruktur, dan pembentukan jejaring tim relawan wilayah Pangkalan,” pungkas Kusmayadi.  []

Tag

Belum ada tag sama sekali