Cerita Iftar Bersama dari Kamp Pengungsian Rohingya di Bangladesh

Kala itu, pengungsi anak hingga dewasa ikut kegiatan iftar bersama yang digelar ACT.

Cerita Iftar Bersama dari Kamp Pengungsian Rohingya di Bangladesh' photo

ACTNews, COX’S BAZAR - Azan Magrib telah berkumandang di sekitar wilayah Kamp Balukhali, Cox’s Bazar, Bangladesh. Segera ratusan pengungsi Rohingya yang telah berkumpul, menyantap makanan di hadapan mereka. Kala itu, pengungsi anak hingga dewasa ikut kegiatan iftar bersama yang digelar Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Kamp Balukhali.


Sebelum kegiatan iftar bersama berlangsung, Dapur Umum Indonesia lebih dulu beroperasi. Dimulai sejak siang hari, Dapur Umum Indonesia mengolah berbagai macam bahan pangan, demi menyiapkan makanan siap santap yang terbaik nan bergizi untuk pengungsi Rohingya di Kamp Balukhali.




Sucita Ramadinda dari tim Global Humanity Response (GHR) - ACT mengatakan, iftar bersama di Kamp Balukhali sudah berlangsung selama tiga hari, yakni Ahad (26/5) hingga Selasa (28/5). Tak kurang dari 325 pengungsi Rohingya menikmati sajian berbuka puasa itu.


“Alhamdulillah, ACT melalui relawan lokal Bangladesh memiliki kesempatan untuk membersamai pengungsi Rohingya di Kamp Balukhali di penghujung Ramadan ini,” kata Sucita, Kamis (30/5).


Terhitung sejak eksodus pada 2017 lalu, sudah dua tahun pengungsi Rohingya menjalani Ramadan di kamp pengungsian. Banyak dari mereka yang mengaku rindu akan kenangan tentang hari-hari menyenangkan di kampung halaman. Namun, sayangnya konflik yang terjadi di Myanmar telah memaksa mereka bertahan dan menjalankan Ramadan di kamp pengungsian.




Selain menggelar kegiatan iftar bersama, ACT juga memberi bantuan pangan kepada 50 keluarga pengungsi Rohingya. Masih di Kamp Balukhali, Cox’s Bazar, distribusi bantuan pangan dilakukan pada Senin (27/5). Beras, minyak, bumbu dapur, dan berbagai macam kebutuhan lainnya diberikan untuk memenuhi kebutuhan mereka selama Ramadan.


Ya, hidup sebagai pengungsi, tak mudah bagi mereka untuk memperoleh barang kebutuhan pokok. Terutama pada bulan suci Ramadan, harga barang pokok biasanya menjadi tinggi, sejalan dengan permintaan yang semakin besar. “Kami berikan bantuan pangan untuk meringankan beban mereka selama Ramadan,” ungkap Sucita.


Lebih dari 1.1 juta muslim Rohingya tinggal di berbagai kemp pengungsian. Dari jumlah tersebut, hampir 750 ribu jiwa berada di Bangladesh sejak Agustus 2017, ketika konflik merebak di Provinsi Rakhine, Myanmar Utara. Ramadan ini merupakan Ramadan kedua bagi pengungsi Rohingya di Bangladesh. []

Bagikan