Cerita Janis, Guru Mengaji yang Sangat Ingin Berkurban

“Pengin. Pengin banget kurban. Kambing yang kecil juga enggak papa,” harap Janis (54) dengan semangat. Namun, tiba-tiba renungan datang. Janis terdiam beberapa saat di dalam kontrakan satu petaknya yang hanya berukuran 3x3 meter. “Tapi duit dari mana. Boro-boro kurban, makan daging saja jarang,” sahutnya sendir sambil mengangkat sedikit bahu tanda kebingungan dan kepasrahan dirinya.

guru mengaji
Janis saat mengajarkan muridnya membaca Al-Quran. (ACTNews/Rizki Febianto)

ACTNews, JAKARTARaut lesu terpampang jelas di wajah Janis (54) seorang guru mengaji di kawahan Johar Baru, Jakarta Pusat. Di momen menjelang Iduladha seperti sekarang ini keinginannya menunaikan ibadah kurban muncul. Akan tetapi, hal itu agaknya sulit diwujudkan tahun ini. Jangankan berkurban, untuk makan sehari-hari saja terkadang ia hanya bisa mengandalkan pemberian dari tetangga.

Maklum saja, Janis hanya hidup sendiri. Suaminya wafat tahun 2003 silam. Tidak lagi memiliki sosok pencari nafkah, memaksanya harus banting tulang untuk dapat bertahan di kerasnya hidup Ibu Kota. Ia pun memilih jadi guru mengaji sebagai profesinya. Bukan di tempat pengajian besar, ia hanya mengajar untuk enam murid di sekitar rumahnya yang baru belajar membaca Al-Qur’an maupun yang ingin memperlancar bacaannya.

"Mengajinya juga bukan di sini (rumah Janis). Tapi ke rumah muridnya langsung. Di sini enggak muat soalnya," kata Janis sambil menunjuk ke arah kulkas yang sudah tak berfungsi lagi. Rencananya, kulkas yang memenuhi ruang di kontrakan kecilnya itu akan dijual. Uangnya akan ia pakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk membayar sewa kontrakan bulanannya yang mencapai Rp250 ribu. 

Murid mengaji Janis juga datang dari keluarga prasejahtera, membuatnya tak pernah mematok biaya. Akan tetapi, muridnya ada saja yang membayar Rp50 ribu hingga Rp.150 ribu per bulan. Dengan pendapatannya yang terbatas dan tak menentu, membuat Janis sulit menabung, termasuk membeli hewan kurban.

"Kambing saja harganya engga tahu berapa juta. Susah nabungnya. Kalau masih ada bapak mungkin ada yang bisa bantu tambah-tambah (tabungan). Tapi kan sekarang cuma sendiri. Bayar kontrakan saja sering nunggak," kata Janis.

Namun, meski kemumkinan tak mampu berkurban, Janis menyebut dirinya masih senang dalam menyambut hari raya Iduladha. Bukan hanya karena nilai-nilai keibadahannya, tapi juga karena akhirnya ia bisa kembali merasakan masakan olahan daging. "Setahun kan biasanya cuma bisa makan daging itu dua kali. Pas lebaran (Idulfitri) sama pas kurbanan (Iduladha) nanti. Tapi yang lebaran juga tergantung, ada yang kasih atau enggak. Jadi yang pasti bisa cuma saat kurbanan saja," jelasnya.[]