Cerita Meinita, Mualaf yang Kehilangan Pekerjaan karena Pandemi Covid-19

Meinita merupakan seorang mualaf. Di beberapa tahun awalnya sebagai seorang muslimah, ia mendapat berbagai ujian, dari mulai meninggalnya sang suami, hingga hilangnya pekerjaan, imbas dari pandemi Covid-19.

Meinita masih terus belajar untuk membaca Al-Quran. (ACTNews/Rizki Febianto)
Meinita masih terus belajar untuk membaca Al-Qur'an. (ACTNews/Rizki Febianto)

ACTNews, JAKARTA TIMUR – "Ayshadu An-la ilaha illallah. Wa Ayshadu Anna Muhammada Rasulullah. Saya bersaksi dengan sebenar-benarnya bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah," ujar Meinita (37) dengan mantap saat dirinya memutuskan memeluk agama Islam pada 2017 lalu. Ia meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar.

Sejak Meinita menjadi seorang muslimah, ia pun mulai belajar untuk berpuasa, serta belajar membaca ayat suci Al-Qur'an huruf per huruf. Saat ia memiliki anak, anaknya pun ia perintahkan untuk belajar mengaji di usia sedini mungkin. “Biar mereka enggak bimbang soal agamanya. Biar mereka bisa pintar mengajinya, dan saya bisa langsung belajar dari mereka,” ujar Meinita saat ditemui tim Aksi Cepat Tanggap (ACT), Selasa (11/5/2021). 

Namun, nampaknya kehidupan awal Meinita sebagai seorang muslimah mendapat ujian dari Allah, suaminya meninggal dunia karena serangan jantung. Ia pun hidup menjanda beberapa tahun. Tak lagi memiliki sosok pencari nafkah, membuat Meinita mandiri dengan menjadi penjual nasi uduk di kantin salah satu sekolah dasar di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan. Kedua anak dari hasil pernikahannya itu pun juga bersekolah di sekolah tempat ia berjualan. 

Meinita yang kemudian memutuskan untuk menikah lagi tersebut, sempat terbantu ekonominya dari penghasilan suami yang bekerja sebagai tukang masak di salah satu restoran. Namun hal tersebut tak lama, karena pandemi Covid-19 membuat suaminya mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).

Pandemi juga turut berdampak ke pekerjaan Meinita sebagai pedagang kantin sekolah, di mana saat pemerintah menerapkan kebijakan belajar dari rumah, saat itu juga lah Meinita tak lagi dapat berjualan karena sekolah telah ditutup. “Sudah hampir dua tahun sekolah enggak dibuka. Sudah hampir dua tahun juga berarti saya enggak ada pemasukan,” ujarnya.

Untuk saat ini, keluarga Meinita hanya mengandalkan bantuan dari pihak masjid di dekat ruamahnya, yang kerap memberikan santunan untuk kedua anaknya, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bukannya tak mau berusaha untuk mencari pekerjaan baru, “Saya sama suami udah coba cari-cari pekerjaan, tapi enggak dapat-dapat juga,” ucap Meinita.

Nasib baik, pemilik kontrakan yang ditinggali Meinita paham betul betapa sulit kondisinya. Sehingga, ia tidak mematok harga kontrakan yang tinggi. Hanya Rp1 juta per tahunnya. Dari harga tersebut, bisa dibayangkan betapa sederhanya tempat tinggal Meinita yang berlokasi di daerah Rawamangun, Jakarta Timur ini. Hanya memiliki dua ruangan, di ruangan pertama, segala aktivitas dari mulai tidur, menyambut tamu, hingga memasak dilakukan Meinita di rungan itu. Sedangkan di ruangan kedua, merupakan kamar mandi bersama, yang juga digunakan oleh tetangga Meinita.

Bulan Ramadan ini dijalani Meinita dengan sangat sederhana. Keluarganya hanya menyantap santapan sederhana untuk berbuka. Tidak boleh boros pikirnya. Ia harus memanfaatkan betul uang yang diterimanya untuk keperluan pendidikan anakanya. “Sekarang kan belajar pakai internet. Duit yang ada jadinya dipakai untuk beli pulsa terus. Biar anak bisa tetap sekolah. Kalau bantuan internet dari pemerintah itu saya terimanya cuma sekali saja, di bulan pertama. Habis itu enggak dapet lagi,” kata Meinita.


Meinita saat menerima bantuan beras dari layanan Ramadhan Care Line. (ACTNews/Rizki Febianto)

Beruntung, saat ia tengah berseluncur di dunia maya, ia menemukan info adanya layanan Ramadhan Care Line yang membagikan beras gratis untuk masyarakat prasejahtera. Ia pun mencoba menelepon nomor yang tertera dalam program tersebut. “Pertamanya ragu, takutnya ditipu saat nelepon nomor itu. Tetapi ternyata dikirim beneran berasnya,” cerita Meinita sambil tersenyum seraya masih tak menduga telah menerima beras gratis.

“Terima kasih ACT atas bantuannya, semoga dibalas berkali-kali lipat oleh Allah,” ucapnya.

Meinita sendiri, merupakan satu dari 23.163 penerima manfaat layanan Ramadhan Care Line sejak memulai operasi 24 jamnya pada 3 Mei 2021 lalu. Total 69.489 kg beras telah dibagikan pada masyarakat prasejahtera yang menelepon layanan ini.[]