Cerita Nenek Piatun dan Tumini, Andalkan Pemberian Tetangga untuk Buka Puasa

Tumini yang tidak bekerja karena kondisinya yang buta, hanya mengandalkan pekerjaan kakaknya, Piatun seorang pemberi makan ternak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka kerap tidak mampu berbuka puasa karena tidak memiliki makanan untuk disantap.

Piatun (kanan) dan Tumini (kiri) saat menerima bantuan logistik dari ACT. (ACTNews)
Piatun (kanan) dan Tumini (kiri) saat menerima bantuan logistik dari ACT. (ACTNews)

ACTNews, MALANG – Air mata Piatun (70) mendadak keluar saat tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) datang ke rumahnya di Desa Rejosari, Kecamatan Bantur, Malang, Jawa Timur pada Sabtu (24/4/2021). Bahagia bukan main dirasakannya saat tim memberikan sejumlah bantuan logistik seperti beras, minyak goreng, dan air bersih untuk minum.

Wajar memang air mata bahagia Piatun pecah. Kehidupan penyintas gempa Malang ini begitu sulit sampai harus mengandalkan pemberian tetangga untuk berbuka puasa. Piatun hanya tinggal besama dengan adiknya, Tumini (65) yang sudah 11 tahun mengalami kebutaan. Sehingga, hanya Piatun yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka berdua.

Piatun sendiri, bekerja serabutan sebagai pemberi makan sapi ternak. Bukan sapi miliknya, tetapi milik orang lain yang dititipkan kepadanya. Di pagi buta, kaki kurus Piatun sudah mulai melangkah ke kebun. Perlahan ia mengarit rumput untuk sapi-sapi tersebut makan. Padahal, dirinya sendiri sering belum mengisi perutnya saat sapi-sapi sudah kenyang dibuatnya.

Pendapatannya yang tidak menentu membuat Piatun kesulitan membeli kebutuhan pangan. Sebelum Ramadan, beberapa kali mereka terpaksa berpuasa karena tidak memiliki makanan untuk disantap. Setelah Ramadan, beberapa kali juga mereka terpaksa menahan laparnya meski waktu berbuka puasa telah tiba, karena tidak memiliki makanan.

Saat gempa bumi bermagnitudo 6,7 mengguncang Kabupaten Malang pada 10 April lalu, Piatun yang panik langsung keluar rumah. Sedangkan Tumini, hanya terbaring pasrah di kasurnya karena tidak ada yang dapat ia lakukan. Gempa tersebut pun sedikit merusak rumah Piatun. Beberapa area di dinding terpantau mengalami keretakan.

"Tapi yang penting saya dan adik saya baik-baik saja," ujar Piatun dalam bahasa Jawa, Sabtu (24/4/2021).

Untuk meringankan beban Piatun, selain memberikan bantuan logistik, ACT juga turut memberikan hidangan siap saji untuk mereka bedua berbuka puasa.

"Kita bantu dengan memberikan mereka berdua hidangan terbaik yang enak dan bergizi tinggi, karena sudah lama juga mereka belum berbuka puasa dengan makanan yang bernutrisi tinggi seperti ini," kata Ihsan dari Tim Program ACT Malang.

Piatun dan Tumini pun berterima kasih kepada para dermawan yang telah menaruh perhatian pada mereka. "Baru dari kalian, kami menerima bantuan ini. Semoga semua amal dan perbuatan baik kalian dibalas langsung oleh Allah SWT, agar aksi bantuan terus dilakukan untuk orang-orang susah seperti kami," kata Piatun.

Untuk diketahui, berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, gempa Malang menyebabkan sekitar 5.010 unit rumah rusak, dengan rincian 2.330 unit rumah mengalami rusak ringan, 1.478 rumah masuk dalam kategori sedang, dan sebanyak 1.202 unit rumah mengalami rusak berat. Selain rumah, gempa tersebut juga menyebabkan 192 bangunan sekolah rusak, 95 unit rumah ibadah rusak, dan 15 fasilitas kesehatan rusak.[]