Cerita Pelik Warga Pinggiran Ibu Kota Saat Krisis Air Bersih

Hampir sebagian besar warga di Kampung Tambun Angke masih memanfaatkan air tampungan dari sungai dan sawah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti mandi, mencuci, bahkan berwudu.

Cerita Pelik Warga Pinggiran Ibu Kota Saat Krisis Air Bersih' photo
Malih Hermawan (44) memperlihatkan kondisi air yang keruh yang telah ditampung warga untuk mandi, mencuci, bahkan berwudu. (ACTNews/Fhirlian Rizqi)

ACTNews, BEKASI Meskipun bermukim di daerah penyangga ibu kota yang letaknya cukup strategis, persoalan krisis air bersih tidak luput dihadapi sebagian warga Bekasi. Salah satunya warga di Kampung Tambun Angke, Desa Segarajaya, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi. Seolah tidak kenal musim, baik musim penghujan maupun kemarau, krisis air bersih jadi masalah laten yang dihadapi warga setempat. 

Hampir sebagian besar warga di kampung tersebut masih memanfaatkan air tampungan dari sungai dan sawah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti mandi, mencuci, bahkan berwudu. 

“Warga di sini, termasuk saya, kalau kemarau ngambil di tetangga atau beli air bersih. Soalnya kering kalau kemarau. Kalau musim hujan kaya sekarang mendingan, kita ngambil air dari resapan sawah sedikit sama air pembuangan perumahan dan itu juga air hitam, terus dipompa buat ke rumah,” ungkap Ketua RT 02 RW 20, Desa Segarajaya, Tarumajaya, Malih Hermawan. 

Malih yang merupakan warga asli Tarumajaya sejak lahir, mengaku kondisi tersebut dialami ia dan warga lainnya bertahun-tahun. Biaya membuat sumur bor sebagai sumber air bersih yang mahal menjadi alasan utama warga setempat tidak punya sumber air memadai. 

“Kalau kering kita beli air ke yang punya sumur bor, sejam kalau nyelang itu Rp7 ribu. Kalau enggak bisa beli, kita ngambil di (kantor) Kepala Dusun pakai gerobak. Sawah juga kalau sudah panen ini kolam-kolam tampungan air warga akan kering,” ujarnya.

Hal senada juga dikeluhkan oleh Gofar (40), warga asli setempat. Ia mengaku sulitnya akses air bersih di tempatnya. Meski punya sumur bor sedalam tujuh meter, itu tidak membuat air yang didapatnya laik untuk digunakan. Ia pun pernah mengalami gatal-gatal disekujur tubuhnya ketika menggunakan air tersebut. 

“Pernah kita gatal-gatal di tangan, mohon maaf di dekat dubur karena pakai air tampungan dari resapan sawah yang sudah hitam dan pembuangan perumahan. Dua minggu itu saya gatal-gatal sampai susah buat aktivitas,” tutur pria yang mengalami PHK akibat dampak pandemi ini. 


Tempat mencuci warga di pinggir sawah, di Desa Segarajaya, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi. (ACTNews/Fhirlian Rizqi)


Dia pun mengatakan, tidak ingin terulang lagi apa yang dialaminya, ia bersama keluarga pun lebih memilih untuk tidak mandi dengan menggunakan air tersebut. Untuk konsumsi, ia dan keluarganya membeli air mineral isi ulang seharga Rp5 ribu. 

“Saya mendingan enggak mandi, daripada gatal-gatal lagi. Soalnya kalau kita mandi, itu pasti berbekas putih di kulit kalau kena gores,” ujarnya sambil memperlihatkan bagian lengannya. 

Ihsan Hafizhan dari Tim Program Global Wakaf-ACT Bekasi mengatakan, apabila dilihat dari kondisi geografis daerah tersebut, sudah dipastikan warga setempat sangat membutuhkan sumur dengan kedalaman lebih dari 100 meter atau sumur komunal. 

“Ini akan jadi perhatian serius kesulitan warga di Tarumajaya akan air bersih. Insyaallah kita akan berikhtiar bersama untuk menuntaskan permasalahan ini. Kami dari Global Wakaf-ACT Bekasi pun mengajak sahabat dermawan untuk bersama-sama patungan guna membangun Sumur Wakaf di sini melalui laman Indonesia Dermawan,” pungkas Ihsan. []