Cerita Rasti Selamat dari Tsunami

Rasti kini tinggal di Hunian Sementara (Huntara) yang terletak di Desa Sumberjaya, Kecamatan Pandeglang, Provinsi Banten.

Cerita Rasti Selamat dari Tsunami' photo
Rasti kini tinggal sendiri di Huntara tanpa ada mata pencaharian dan hanya menggantungkan bantuan maupun kiriman dari anak-anaknya. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, PANDEGLANG - Rasti (57) sedang berada di salah satu rumah warga pada 22 Desember 2018 malam itu di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang. Wanita paruh baya itu tengah melakukan jasa pijat untuk penghuni rumah. Ia dan warga lain tidak mengetahui betul aktivitas Gunung Anak Krakatau menyebabkan tsunami besar dan segera menyapu tempatnya berada.

“Saya tidak tahu apa-apa, tidak sempat kabur juga, karena saat itu malam dan tidak ada gempa sebelumnya. Tiba-tiba air menyapu saja ke dalam rumah. Saya terapung di rumah itu, tapi masih dapat tempat buat bernafas. Saya mengambang terus di sana, sampai bisa menapak di tanah baru saya keluar rumah,” kisah Rasti pada Ahad (27/10) lalu.

Rasti tidak ingat berapa lama ia bertahan, yang jelas durasinya dalam hitungan jam. Ia juga tidak tahu pasti setinggi apa air yang menyapunya. Setelah keluar rumah, ia menyaksikan semuanya habis tersapu oleh air.

Setelah tsunami sempat ia tidur di dekat kandang ayam, di gardu, atau dari pengungsian ke pengungsian sampai sebuah Hunian Sementara (Huntara) selesai dibuat beberapa bulan kemudian. Namun, bukan berarti semuanya jadi lebih mudah. Sebelumnya ia dapat tinggal di rumah orang lain dan bekerja serabutan. Kini ia hidup sendiri dan hanya ditopang kiriman anaknya.


Para penyintas korban tsunami Selat Sunda yang hingga kini masih bertahan di Huntara. (ACTNews/Reza Mardhani)

“Sekarang ibu cuma menunggu kiriman dari anak, kadang menunggu bantuan-bantuan seperti dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) ini juga. Karena ibu sudah tidak punya suami dan tidak bekerja. Kalau dulu ibu tinggal di rumah orang, membantu orang apa saja, bisa menjahit juga sedikit, tapi alatnya sekarang sudah tidak ada,” ujar Rasti yang hari itu menerima bantuan berupa paket pangan.

Karenanya Rasti merasa senang dengan bantuan dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama Pusat Pengajian Al Zikri yang datang kepada para penyintas di Huntara Desa Sumberjaya. Mohammad Giri Farras Syah dari tim ACT menjelaskan, bantuan paket pangan dan paket pendidikan untuk ratusan pengungsi ini adalah bentuk syukuran karena Sumur Wakaf Keluarga akan segera dibangun untuk para penyintas.

“Kami mendistribusikan ratusan paket pangan dan pendidikan sebagai bentuk syukuran terhadap donasi Pusat Pengajian Al Zikri. Donasi Sumur Wakaf Keluarga ini adalah bentu solidaritas dari Pusat Pengajian Al Zikri kepada saudara-saudara kita yang terkena bencana tsunami Selat Sunda,” ujar Farras. []

Bagikan