Cerita Saleem, Petani Tomat di Gaza yang Terpaksa Buang Hasil Panennya

"Israel memutuskan untuk membuang mahkota tomat sebelum diekspor. Masalah ini sangat berbahaya, dan tentu saja tidak sesuai pada standar ilmiah. Tidak ada hubungannya dengan sains, atau dengan produksi, teknologi, dan itu tidak ada hubungannya dengan kebersihan dan kualitas tanaman," ujar Nizar Alwhaidi selaku General Manager di Kementerian Pertanian Palestina

petani gaza merugi
Ilustrasi. Saleem adalah petani di Gaza yang mengalami kerugian besar akibat kebijakan sewenang-wenang Israel. (Dokumen Istimewa)

ACTNews, GAZA – Khalid Muhammad Saleem Alattar sudah menjadi seorang petani di Utara Gaza selama 40 tahun. Ia menanam berbagai jenis sayuran seperti kentang, mentimun, buncis, hingga merica. Namun, tomat lah yang menjadi tanaman yang paling banyak ia tanam dan panen tiap tahunnya. Bisa dibilang, tomat menjadi faktor utama ia dan keluarga bisa bertahan di kerasnya kehidupan di Gaza.

Saleem menuturkan, bahwa pertaniannya berjalan baik sebelum blokade dan agresi Israel dimulai pada Ramadan lalu. "Penanaman tomat adalah sumber utama penghasilan  kami, biayanya sangat tinggi. Untuk petani, setiap kilo tomat berharga 1 shekel," kata Saleem saat ditemui oleh tim Aksi Cepat Tanggap di kebunnya, Selasa (6/7/2021).

Namun, kondisi berubah saat agresi Israel dimulai. Para petani di Gaza, termasuk Saleem dilarang untuk berkebun. Tanaman-tanaman yang sedang ditanam, tidak bisa mereka beri air. Membuat banyak tomat yang tidak terawat dan akhirnya rusak. Bahkan, sebagian ladang tomat milik Saleem juga hancur akibat serangan Israel.

"Situasi ini memaksa para petani untuk membuang hasil panen mereka karena tidak bisa dijual. Menyebabkan kerugian besar bagi mereka," katanya.

Tidak berhenti sampai di situ. Meski serangan telah berhenti pada Juni lalu, zionis Israel tetap menyulitkan para petani di Gaza. Otoritas Israel membuat kebijakan baru terkait ekspor tomat keluar Gaza, yaitu para petani harus mencabut sepal atau mahkota tomat sebelum diekspor. Jika tidak, tomat-tomat tersebut tidak akan diizinkan keluar dari Gaza.

Hal tersebut tentu sangat merugikan para petani. Sebab, mencabut mahkota tomat satu persatu akan menghabiskan waktu yang cukup lama. Selain itu, dengan mencabut mahkota tomat, akan membuat buat tersebut membusuk lebih cepat.

"Kami terkejut ketika Israel memerintahkan bahwa tomat-tomat yang akan diekspor harus tanpa mahkota. Tomat tanpa mahkota, artinya buahnya tidak akan berguna untuk konsumen. Sehingga kami berhenti mengekspor karena pembatasan yang sangat keras. Pembatasan yang tidak mungkin ini, memiliki arti bahwa Israel tidak ingin produk di Gaza diekspor ke luar," ujar Saleem.

Sementara itu, ditemui secara terpisah, Tim ACT Palestina juga mewawancarai Nizar Alwhaidi selaku General Manager di Kementerian Pertanian Palestina. Nizar menikai, kondisi iklim di Gaza sejatinya sangat mendukung untuk sektor petanian. Namun, menurutnya menjadi petani di Gaza adalah pekerjaan yang sangat sulit. Sebab, zionis Israel menggunakan sektor pertanian sebagai sarana tekanan untuk mendisiplinkan warga Gaza yang mulai mencoba perlawanan.

"Israel sengaja memukul infrastruktur sektor pertanian. Dari tiap agresi yang dilakukan, mereka turut menargetkan pertanian. Dari perspektif pribadi saya, kehancuran pertanian adalah kehancuran bagi sistem ketahanan pangan di mana warga Palestina tinggal," jelas Nizar.

"Contoh paling jelas adalah apa yang terjadi minggu lalu ketika Israel memutuskan untuk membuang mahkota tomat sebelum diekspor. Masalah ini sangat berbahaya, dan tentu saja tidak sesuai pada standar ilmiah. Tidak ada hubungannya dengan sains, atau dengan produksi, teknologi, dan itu tidak ada hubungannya dengan kebersihan dan kualitas tanaman," tambahnya. []