Cerminan Solidaritas Masyarakat Urban di RW Sedekah

Ketika sebagian besar warga Jakarta resah akibat pandemi, RW 05 Kelurahan Karang Anyar, Jakarta Pusat langsung mengambil langkah untuk meminimalisir dampak ekonominya. Setiap bulannya warga yang merasa memiliki kelebihan rezeki secara kolektif mengumpulkan uang untuk saudara mereka yang membutuhkan.

Wilayah RW 05 Kelurahan Karang Anyar. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, JAKARTA – Ketika pandemi mulai menyebar di Jakarta sekitar bulan April lalu, banyak warga yang resah. Selain memperpuruk sektor kesehatan, dampak pandemi turut menggerogoti sektor ekonomi. Imbas bagi masyarakat, sebagian besar mengalami penurunan penghasilan, bahkan ada yang kehilangan pekerjaan sama sekali. Lima bulan bertahan dalam pandemi, masyarakat pun kian khawatir dampak sosial ekonomi dari pandemi terus meluas.

Di tengah keresahan menghadapi pandemi, warga RW 05 Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat berembuk. Hasilnya mereka memiliki program Sedekah RW untuk mengantisipasi dampak pandemi di lingkungan mereka.

“Warga awalnya bingung, Sedekah RW itu maksudnya seperti apa? Memang RW mau sedekah? Setelah penyampaian dari pihak RT dan rekan-rekan Karang Taruna ke warga, akhirnya warga mengerti bahwa Sedekah RW itu gerakan warga memberikan sedekah, yang dihimpun sebulan sekali, dan diberikan kepada warga lain yang membutuhkan,” jelas Iswanto selaku Ketua RW 05 Kelurahan Karang Anyar.

Kendati awalnya bingung, warga ternyata antusias juga menyambut program ini. Banyak dari mereka yang kemudian memberikan hartanya kepada Karang Taruna yang berkeliling dari pintu ke pintu, demi saudaranya yang memang membutuhkan. Gerakan ini terus berlanjut, hingga kemudian RW ini disebut juga sebagai RW Sedekah. Sampai saat ini, hasil sedekahnya bisa berkisar di angka Rp 3 juta per bulan.


“Alhamdulillah, antusias warga di RW 05 itu baik. Banyak yang memberikan, dari awal (April) Rp2,1 juta, sampai bulan lalu (Juli) lewat program Sedekah RW kita dapat Rp 3,15 juta. Nantinya uang dari Sedekah RW tersebut diperuntukkan kepada yatim piatu, janda, lansia, dan operasional ambulans. Karena di sini kan juga ada ambulans yang operasionalnya dibiayai dari RW dan Sedekah RW,” kata Iswanto.

Solidaritas itu diakui oleh Iswanto tidak hanya datang dari warga-warga mampu saja, tapi datang juga dari warga yang memang kehidupannya tidak berkecukupan. Tapi semangat berbagi itu besar sehingga mereka turut berpartisipasi.

“Ada juga yang memang warga yang kurang mampu di saat pandemi baru menyebar, kemudian memberikan sumbangannya.  Ikut sumbangsih lah mereka istilahnya. Kita tidak menghalangi juga untuk orang yang tidak mampu untuk memberikan sedekah. Karena ini dari warga, untuk warga, dan kembali ke warga,” ucap Iswanto.

Lurah Karang Anyar Heru Supriyono juga mengatakan hal serupa. Menurutnya meskipun masih banyak juga di antara mereka warga-warga yang belum memiliki kecukupan, niat mereka untuk berbagi itu selalu ada.


“Boleh dikatakan di Karang Anyar ini memang banyak daerah-daerah yang masih kumuh. Tetapi bukan berarti dengan begitu mereka tidak punya rasa kepedulian. Hanya saja mungkin, selama ini salurannya itu belum ada. Belum banyak pihak-pihak yang bisa menampung keinginan ini,” ucap Heru.

Oleh karenanya, Heru mengapresiasi ketika Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengaktivasi Lumbung Sedekah Pangan di Masjid Nurul Iman di wilayah RW 05 Kelurahan Karang Anyar pada Senin (10/8) lalu. Aktivasi lumbung tersebut mrupakan bagian dari Gerakan Nasional Lumbung Sedekah Pangan, gerakan yang melibatkan semua elemen masyarakat untuk memberikan sedekah kepada masyarakat prasejahtera di era kenormalan baru. Di Lumbung Sedekah Pangan yang telah disediakan, masyarakat bisa menaruh sedekah mereka berupa pangan di rak tersebut dan nantinya boleh diambil oleh warga yang membutuhkan.

Cara tersebut, menurut Heru, akan menyediakan jalan baru bagi masyarakat untuk senantiasa berbagi. “Kalau untuk bantuan pangan, mungkin masyarakat juga tidak berkekurangan. Karena selama ini selalu ada bantuan baik dari Pemprov maupun pihak lain. Tapi dengan adanya Lumbung Sedekah Pangan ini, masyarakat jadi punya saluran untuk berbagi sendiri. Misalnya ada masyarakat yang sulit, punya sedikit tapi ingin berbagi, dengan adanya rak ini mereka tak perlu malu menyalurkannya,” ucapnya.

Fuad Mursidi dari Tim Program ACT Jakarta Pusat berharap dengan adanya Lumbung Sedekah Pangan ini, masyarakat bisa bahu-membahu. Terutama mengingat saat pandemi ini banyak masyarakat sulit untuk mendapatkan penghasilan.


Lurah memberikan beras dari Lumbung Sedekah Pangan kepada salah satu warga. (ACTNews/Reza Mardhani)

“Seperti kita tahu, pada masa pandemi seperti sekarang, masyarakat banyak yang pendapatannya berkurang atau malah kehilangan sama sekali. Keberadaan Lumbung Sedekah Pangan ini diharapkan bisa menjadi solusi bagi masyarakat. Kita harapkan masyarakat yang punya rezeki berlebih nantinya dapat membantu mereka-mereka yang sedang mengalami kesulitan,” ujar Fuad.

Fuad juga berharap makin banyak publik yang berpartisipasi dalam Gerakan Nasional Lumbung Sedekah Pangan banyak lagi Lumbung Sedekah Pangan. Dengan demikian, semakin banyak Lumbung Sedekah Pangan yang dihadirkan di seluruh daerah dan masyarakat yang dapat merasakan manfaatnya pun bertambah.

“Kita berharap juga tentunya partisipasi dari para dermawan sehingga kita dapat menghadirkan lebih banyak lagi Lumbung Sedekah Pangan di berbagai tempat. Semoga dengan banyaknya Lumbung Sedekah Pangan nanti, masyarakat dapat saling berbagi dan  membuat ketahanan pangan kita bisa lebih kuat di tengah kondisi ekonomi yang sulit ini,” ujar Fuad. []