Cita-Cita Denisa ingin Menjadi Dokter

Lahir di keluarga prasejahtera tak membuat Denisa memupus begitu saja cita-citanya. Di usianya yang baru menginjak enam tahun, ia selalu giat belajar dan mendapatkan prestasi. Di samping itu, Denisa juga harus menemani sang ayah mencari barang rongkos untuk mendulang rupiah.

act sidoarjo
Tim ACT saat menemui Denisa (tengah) yang sedang menemani sang ayah bekerja. (ACTNews)

ACTNews, SIDOARJO – Denisa usainya baru menginjak enam tahun. Akan tetapi, ia sudah harus mengikuti sang ayah mencari rezeki, bahkan hingga larut malam. Ayah Denisa yang bernama Nur berprofesi sebagai pencari barang rongsok di Sidoarjo, untuk kemudian dijual kembali, sedangkan ibu Denisa sudah wafat tahun lalu.

Saat ini Denisa dan sang ayah tinggal berdua di sebuah bangunan kumuh yang tak jauh dari rel kereta. Hanya ada satu ruangan yang berisikan kasur serta barang-barang kebutuhan harian. Bau menyengat acap kali tercium yang berasal dari barang-barang bekas yang dikumpulkan. Sebenarnya Denisa memiliki dua orang adik, tapi mereka tak tinggal bersama karena dititipkan ke pamannya yang berada di Jember.

Di tengah waktunya menemani sang ayah bekerja dan hidup dengan ekonomi prasejahtera, Denisa tetap semangat belajar. Saat ini ia duduk di bangku SD dan menjadi salah satu anak yang berprestasi di sekolahnya.

Denisa ingin jadi dokter, biar bisa nyembuhin banyak orang,” katanya beberapa waktu lalu.

Di tengah semangat belajar Denisa ini, timbul kekhawatiran dari Nur, ayah Denisa. Ia takut biaya untuk pendidikan anaknya itu tak bisa tercukupi, apalagi selama pandemi, barang rongsokan yang ia dapatkan tak sebanyak sebelumnya. Belum lagi Nur harus mengirim uang untuk adik Denisa di Jember. Denisa pun belum memiliki akta kelahiran, sehingga sulit mendapatkan bantuan, bahkan pernah nyaris membuat Denisa tak bisa lanjut sekolah.

“Saya tetap ingin mengantar Denisa sekolah setinggi-tingginya,” harap Nur.

Untuk memberikan semangat ini, Aksi Cepat Tanggap (ACT) beberapa waktu lalu menyerahkan bantuan untuk mendukung pendidikan Denisa. Jamal Azromi dari tim Program ACT Sidoarjo mengatakan, biaya administrasi pendidikan serta seragam telah dilunasi buah kedermawanan masyarakat yang disalurkan melalui ACT. Denisa dan ayahnya pun tak lagi tinggal di lokasi pengumpulan barang rongsok lagi, mereka kini tinggal di indekos yang lebih nyaman.

“Setiap anak bangsa berhak mendapatkan pendidikan, karena bagaimanapun mereka merupakan generasi penerus bangsa ini,” kata Jamal.[]