Cita-Cita Menjadi Abdi Negara dari Yatim Prajurit

Ditinggal wafat sang ayah tak membuat Lingga (16) memupus cita-citanya menjadi abdi negara. Kini remaja yang tinggal di Panti Asuhan Korem 084/Bhaskara Jaya, Surabaya ini terus memupuk kemampuan dan harapan demi mewujukan keinginan.

Lingga saat ditemui tim ACT di Panti Asuhan Korem 084/Bhaskara Jaya, Surabaya. (ACTNews)

ACTNews, SURABAYA Lingga Bayu Wira (16) seorang yatim putra prajurit. Mendiang ayahnya wafat pada 2014 silam ketika Lingga duduk di bangku kelas 3 SD. Tinggal bersama ibu dan kakak perempuan membuat Lingga tetap kuat dan berjuang melanjutkan kehidupan.

Menginjak usia SMP, Lingga tinggal di Panti Asuhan Korem 084/Bhaskara Jaya, Surabaya. Bersama teman sebayanya, Lingga bersekolah dan melatih diri di panti asuhan tersebut. Ia terpisah dengan ibu dan sang kakak, hal ini dilakukan demi meraih cita-cita besarnya yakni ingin menjadi seorang tentara. “Mau nerusin seperti bapak jadi tentara dan abdi negara,” ungkap Lingga sambil diiringi senyum pada awal Maret ini.

Menjadi abdi negara, Lingga sudah mengetahui konsekuensi yang harus dihadapi. Ketika ia meraih cita-citanya nanti, Lingga siap jika harus jauh dari keluarga. Sering melihat mendiang ayah sering ditugaskan keluar kota saat mendapatkan tugas, membuat Lingga mempersiapkan semuanya.

Gantikan ayah untuk jagain ibu dan mbak, dan harus bisa jadi seperti ayah, begitu pesan ayah sebelum beliau meninggal,” kenang Lingga.

Membersamai cita-cita calon penjaga negeri ini, Aksi Cepat Tanggap (ACT) berikhtiar mendampingi anak-anak yatim prajurit melalui program Sahabat Pelajar Indonesia. Beasiswa pendidikan diberikan dalam rangka pendampingan agar mereka terus bisa meraih mimpi.

“InsyaaAllah beasiswa yatim prajurit akan diberikan untuk 100 yatim di wilayah Kodam V Brawijaya, Jawa Timur. Bantuan beasiswa akan diberikan setiap bulan melalui transfer ke rekening wali masing-masing,jelas Kepala Program ACT Jawa Timur Dipohadi, Senin (8/3).

Selain pendampingan pendidikan untuk yatim prajurit, ACT telah lama menjalankan program-program pendampingan pendidikan, khususnya bagi anak-anak di tepian negeri. Di Sikakap, Mentawai misalnya. Beberapa tahun yang lalu, ACT membangun sekolah yang hingga kini masih terus digunakan. Mayoritas murid yang bersekolah di sana merupakan mualaf anak dari dusun terpencil di Kabupaten Mentawai.[]