Covid-19 dan Imbasnya pada Kehidupan Guru TPQ Ema Hapsah

“Karena Covid-19, para siswa tidak hadir ke sekolah dan kantin tutup,” kata Ema saat ditemui tim Global Zakat-ACT, Selasa (31/8/2021).

ema siti hapsah
Suasana saat Ema Siti Hapsah mengajar di TPQ Al-Furqon. (ACTNews)

ACTNews, BALIKPAPAN – Beban hidup Ema Siti Hapsah semakin berat. Setelah pandemi Covid-19 yang mengakibatkan usahanya tutup, Ema juga harus ditinggal sang suami sebagai tulang punggung keluarga untuk selamanya. 

Sebelum pandemi Covid-19 terjadi, Ema dan almarhum suaminya berjualan makanan ringan  di kantin salah satu sekolah di Kelurahan Damai, Kecamatan Balikpapan Kota, Kota Balikpapan. Dari usaha itulah penghasilan keluarga Ema. 

“Karena Covid-19, para siswa tidak hadir ke sekolah dan kantin tutup,” kata Ema saat ditemui tim Global Zakat-ACT, Selasa (31/8/2021).

Kegiatan Ema saat ini hanya mengajar TPQ AL-Furqon di Balikpapan Kota. Ema Siti Hapsah kini hidup seorang diri karena sang anak sudah lebih dulu wafat, enam tahun lalu sementara suaminya meninggal enam bulan lalu. 

“Gaji mengajar TPQ Rp350 ribu per bulan. Belum cukup untuk membayar listrik, makan, dan membeli air. Jadi dibantu keluarga yang merantau ke Lombok. Mau bagaimana lagi? Usaha juga belum bisa karena modal tidak ada,” ungkapnya. 

Uswatun Hasanah dari tim ACT Kalimantan Timur mengatakan, selama pandemi Covid-19 banyak guru-guru mengaji di daerah yang mengalami guncangan secara ekonomi maupun kesehatan. “Membantu kesulitan mereka, Global Zakat-ACT memberikan bantuan biaya hidup dan paket pangan,” Uswatun.[]