Daging Kurban Bahagiakan Penghuni Kamp Penampungan Sementara di Filipina

“Sebagai guru, gaji saya hanya 2.000 peso. Lebih baik digunakan untuk makan sehari-hari keluarga, daripada untuk membeli daging,”

kurban untuk filipina
Warga kamp penampungan sementara di Asinan bekerjasama dalam menyembelih hewan kurban dari Global Qurban-ACT tahun 2020. (ACTNews)

ACTNews, ZAMBOANGA – Kurang lengkap rasanya jika merayakan Iduladha tanpa berkurban atau menyantap daging olahannya. Namun kondisi ini sudah tidak dirasakan lagi oleh warga di kamp relokasi sementara Asinan, Kota Zamboanga, Filipina. 

Salah seorang warga penghuni di Asinan, Khadijah J. Batalo mengatakan, sebagai ibu dirinya merasa prihatin karena usai salat Iduladha, ia dan anak-anaknya hanya bisa diam di rumah. Tidak ada perayaan kurban, karena tidak memiliki uang. Harga kambing sangatlah mahal bagi mereka sekitar 5.000-6.000 peso atau Rp1,5 juta.

“Sebagai guru, gaji saya hanya 2.000 peso. Lebih baik digunakan untuk makan sehari-hari keluarga, daripada untuk membeli daging,” kata Khadijah saat ditemui tim Global Qurban-ACT pada Iduladha tahun 2020. Saat itu, Global Qurban-ACT mengantarkan daging kurban ke Kamp Asinan.

Selain Khadija, Abdullah Abbas, salah satu penghuni kamp juga mengatakan kehadiran daging kurban sangat berarti bagi keluarganya dalam setiap Iduladha. Sudah tujuh tahun kami tidak merasakan nikmatnya daging kurban karena kondisi ekonomi yang hancur. 

“Merayakan Iduladha (dengan berkurban) sangatlah penting namun mayoritas (warga) tidak memiliki anggaran untuk melakukannya. Tetapi alhamdulillah, kehadiran daging dari Global Qurban-ACT sangat membantu,” ujarnya. 

Kota Zamboanga merupakan tempat bagi 1.362 KK atau 6.810 jiwa yang menunggu tempat tinggal permanen dari pemerintah. Mereka saat ini tinggal di tempat penampungan sementara juga menumpang di rumah-rumah saudara. Tempat penampungan sementara berada di empat desa yakni Mampang, Rio Hondo, Asinan, dan Buggoc. Hal tersebut terjadi sejak 2013 akibat serangan militer dan bencana alam. []