Daging Kurban dan Harapan Warga Sekitar Gunungan Sampah Bantargebang

Daging menjadi barang mewah bagi masyarakat di sekitar TPST Bantargebang, Kota Bekasi. Hanya di momen Iduladha mereka bisa mengkonsumsi daging segar dan halal. Biasanya, banyak santri mengkonsumsi daging yang didapat dari sampah dan sudah kadaluarsa.

qurban di bantargebang
Senyum warga sekitar TPST Bantargebang usai menerima daging kurban dari Global Qurban-ACT. (ACTNews)

ACTNews, KOTA BEKASI - Matahari beranjak turun, tanda hari tasyrik kedua Iduladha 1442 Hijriah yang bertepatan dengan Kamis (22/07/2021) sudah hampir berakhir. Namun, arus lalu lintas di jalan utama menuju lokasi Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi masih dipadati puluhan truk pengangkut sampah dari DKI Jakarta.

Selama masa pemberlakuan PPKM Darurat maupun momentum Idul Adha, aktivitas di lokasi pembuangan sampah tersebut tidak berhenti. Tetapi para pemulung yang mengais rezeki dari sampah di TPST Bantargebang tidak seramai hari-hari biasanya.

Para pemulung yang biasa mencari rongsokan di TPST Bantargebang masih menikmati suasana Iduladha. Hal ini tampak dari meriahnya aksi pendistribusian daging kurban dari Global Qurban-ACT di sekitar TPST Bantargebang. Bekerjasama dengan Sekolah Alam Tunas Mulia, Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, ratusan paket daging dibagikan kepada para santri dan warga sekitar.

Staf Pengajar di Sekolah Alam Tunas Mulia, Nurjanah mengungkapkan, khusus santri dan murid sekolah alam, distribusi kurban menjadi momen penuh kebahagiaan. Tidak hanya sekadar dapat mengonsumsi daging, Iduladha juga menjadi momen menyambung doa untuk menyemai harapan akan kehidupan yang lebih baik.

“Banyak santri penghafal Al-Qur’an di sekolah kami berasal dari keluarga pemulung, rumahnya gubuk, jadi anak-anaknya bermukim atau menetap di sini untuk belajar. Program tahfidz dimulai pada 2020 dan gratis,” tutur guru yang akrab disapa Yana ini, Kamis (22/7/2021).

Ia pun mengutarakan, bagi santri yang menetap, jadwal makan terbagi dalam tiga kali sehari. Selain dari donatur, bahan makanan yang dikonsumsi berasal dari tanaman atau hasil budidaya ternak seperti ikan lele dan telur ayam yang dikelola sendiri oleh guru dan santri.

“Kalau (konsumsi) daging jarang, hanya di momen-momen tertentu seperti kurban atau lebaran. Kecuali santri yang tinggal di rumah, biasanya orang tua santri yang pemulung sering dapat daging dari buangan sampah. Kita enggak tahu dagingnya dari mana, daging apa, halal atau enggak, karena itu dari buangan yang sudah kadaluarsa,” ungkap Yana.

Yana melanjutkan, ia bersama para guru di sekolah alam tersebut mendidik anak-anak untuk dapat memilih makanan yang bersih, sehat, dan halal. Bahkan, pihak sekolah pun melarang anak-anak untuk makan daging hasil dari buangan sampah.

“Maka dari itu kita di sekolah berusaha untuk memberikan mereka makanan terbaik yang segar, sehat, dan halal serta tahu asal muasalnya. Jadi insyaallah ini bermanfaat sekali distribusi kurban dari ACT untuk anak-anak,” ungkap Yana.

Senada dengan Yana, salah satu Wali Murid dari santri Sekolah Alam Tunas Mulia, Aan Andasari (39) mengaku bahagia bisa menerima daging kurban dari Global Qurban-ACT yang didistribusikan di sekolah anaknya tersebut. Momen ini ia tunggu-tunggu sebab, daging menjadi santapan yang jarang sekali ia konsumsi bersama keluarga.

“Kita memang jarang (makan) daging. Sehari-hari enggak kepikiran buat beli daging. Kalau daging kan harganya lumayan mahal, jadi lebih baik kita belikan yang lain soalnya harga daging sekilo Rp180 ribu, Ya Allah enggak mungkin kita belikan setengah pasti enggak cukup anak saya banyak mending yang lain, uangnya bisa buat besok lagi,” ungkap Aan.

Dengan penghasilan pas-pasan, daging seolah menjadi barang mewah untuk dikonsumsi. Setiap tahun, momen Iduladha menjadi kesempatan agar bisa mengkonsumsi daging. Ia berharap momen bahagia tersebut dapat terus dirasakan olehnya dan warga lain terutama di masa sulit karena dampak pandemi yang terjadi saat ini.

“Biasanya di sini masjid banyak (hewan kurban) tapi tahun ini enggak ada, ada sih tapi enggak mencukupi kan masyarakatnya banyak tapi kalau kambing Cuma empat enggak kebagian semua kan bingung baginya makanya dari kemarin itu kambing belum dipotong.  Tapi Alhamdulillah nya Alam (anak saya) dapat dari sekolah jadi saya kebagian rejekinya Alhamdulillah,” katanya.[]