Daging Kurban Meredam Duka Pengungsi di Lombok Utara

Setahun lalu, Lebaran Kurban berbalut duka di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Dua minggu sebelum Iduladha, gempa besar mengguncang Lombok, pada 29 Juli dan 5 Agustus 2018.

Daging Kurban Meredam Duka Pengungsi di Lombok Utara' photo

ACTNews, LOMBOK UTARA – Sudah dipastikan tidak akan ada ketupat berdampingan dengan sajian daging di meja makan keluarga Juliani pada Iduladha 1439 Hijriah. Gempa magnitudo 6,9 dua minggu sebelumnya menghancurkan rumah warga Sigar Penjalin, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara itu. Iduladha dimaknai secara sederhana oleh para pengungsi gempa.

Kala itu, Rabu pagi (22/8), suasana haru menguap usai para pengungsi melaksanakan salat Iduladha. Mereka berkumpul di salah satu tanah lapang Desa Sigar Penjalin memanjatkan doa bersama. Doa yang saling menguatkan itu pun menjadi perekat di tengah kondisi duka.

“Kami sedih, Iduladha kondisinya sedang begini. Biasanya kan di rumah, kumpul sama keluarga masak ketupat, sedang sekarang kami semua hanya bisa merayakan di tenda pengungsian,” cerita Juliani kepada tim ACTNews saat itu.


Tepat di hari Lebaran Kurban, Global Qurban-ACT hadir mengobati duka para pengungsi gempa. Kusmayadi selaku Koordinator Global Qurban-ACT untuk pengungsi Lombok di Kecamatan Tanjung, saat itu mengatakan, daging kurban akan didistribusikan ke unit-unit Posko Kemanusiaan ACT di Tanjung untuk dimasak dan menjadi menu santap bersama para pengungsi.

“Kami melibatkan warga yang tinggal di pengungsian, terutama ibu-ibu, untuk memasak daging kurbannya. Jadi, mereka sendiri yang akan menentukan mau diolah menjadi apa daging kurbannya," papar Kusmayadi. Global Qurban menyembelih 61 sapi di Kecamatan Tanjung. Penyembelihan tersebut dilakukan secara bertahap sejak hari Iduladha (22/8) hingga hari tasyrik ketiga, yakni Sabtu (25/8).

Santap bersama di Dapur Qurban


Asap mengepul dari dandang besar di Dapur Qurban di Desa Sigar Penjalin, Jumat (24/7) kala itu. Para pengungsi ibu sibuk mengaduk isi dandang. Seorang ibu lainnya memegang bilah batang daun kelapa yang telah dibersihkan. Dengan bilah itu, ia mengaduk isi dandang. Potongan daging berwarna coklat dengan kuah beraroma rempah tercium. “Kalau orang Lombok bilang ini kelak air,” kata Marsiah, salah satu juru masak yang juga pengungsi.

Penggorengan berisi minyak panas telah siap di atas tungku lain. Sebagian daging yang telah direbus, dipotong kecil-kecil, dan dimasak hingga berubah warna menjadi coklat. “Ini namanya daging goreng,” lanjut Marsiah sembari mengolah hidangan tersebut. Berbagai macam olahan itu akan dinikmati sebagai penutup kegiatan pemotongan kurban yang dilakukan di Desa Sigar Penjalin bersama relawan Global Qurban - ACT.

Waktu sudah menunjuk pukul 18.04 WITA, semua hidangan telah masak. Daging goreng diletakkan di nampan besi bersama sambal menjadi pelengkap rasa. Pengungsi dan relawan pun duduk berkerumun menikmati sajian Dapur Qurban. Hari tasyrik kedua di pengusian Desa Sigar Penjalin pun ditutup dengan makan bersama, berlatar jingga langit dan berjubelnya tenda-tenda pengungsian.[]

Bagikan