Daging Kurban Penuhi Kebutuhan Nutrisi Pengungsi Suriah

Minimnya lapangan pekerjaan untuk para penyintas konflik Suriah di Hatay, Turki, membuat mereka kesulitan untuk membeli bahan pangan bernutrisi, terutama daging. Pada momen Iduladha 2018 lalu, harapan menikmati hidangan bernutrisi pun terwujud tatkala Global Qurban antarkan paket daging kurban ke ribuan pengungsi Suriah.

Daging Kurban Penuhi Kebutuhan Nutrisi Pengungsi Suriah' photo

ACTNews, REYHANLI - Perang saudara yang menimpa Suriah selama delapan tahun belakangan belum usai. Mengutip laporan Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) per Februari 2016, lebih dari 370.000 jiwa meninggal dunia dalam konflik tersebut. Sebanyak 120.000 korban di antaranya merupakan warga sipil, termasuk lebih dari 21.000 anak-anak dan 13.000 perempuan.

Korban konflik Suriah tidak melulu bicara jiwa. Banyak warga Suriah yang jadi sulit hidupnya setelah konflik ini terjadi. Misalnya, mereka yang mengungsi ke luar Suriah. Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) mencatat dari 5.625.871 jiwa yang mengungsi, 3.614.108 di antaranya tinggal di Turki. Salah satu wilayah yang mereka tinggali adalah Kota Reyhanli di Provinsi Hatay.

Mustafa Kanaan, mitra Global Qurban di Turki, mengatakan pengungsi Suriah umumnya kesulitan memperoleh pangan. Pendapatan mereka belum cukup untuk membeli bahan makanan pokok.


“Kemiskinan masih menghantui mereka karena pendapatan mereka tidak menentu. Sementara itu, makanan cukup mahal sehingga mereka tidak mampu membelinya. Banyak juga yang memotong biaya makanan demi kebutuhan lainnya yang menyebabkan mereka kekurangan makanan,” kata Mustafa. Ia menambahkan, pemerintah terus berusaha membantu para penyintas dari Suriah ini, namun kebutuhan yang diperlukan lebih tinggi ketimbang bantuan itu sendiri.

Karenanya, tidak hanya pemerintah dan warga Turki yang ikut turun tangan. Pada momen Iduladha 2018 lalu, masyarakat Indonesia melalui Global Qurban menyembelih puluhan kambing kurban untuk 1.430 pengungsi Suriah.

“Ya, memang ada kerawanan pangan karena kondisi sulit yang dialami para pengungsi. Konsumsi daging para pengungsi sendiri paling minimal 2.5 kilogram per bulan untuk lima orang anggota keluarga,” jelas Mustafa.

Segala yang diceritakan Mustafa, itulah yang dirasakan Mohammed Jattal yang tinggal di wilayah Hatay. Tidak tanggung, Jattal menjadi tulang punggung dari 12 orang anggota keluarganya. Tetapi cedera yang didapatnya dari konflik di Suriah, membuatnya tidak bisa berjalan tanpa tongkat. Sulit baginya mendapat pekerjaan dengan kondisi tersebut. Karenanya ia sangat berterima kasih dengan hadirnya bantuan daging kurban ini.


“Sulit sekali buat saya mendapatkan pekerjaan karena cedera yang saya alami. Karena pekerjaan yang ada membutuhkan fisik yang mumpuni. Sehingga, kebutuhan jadi sulit terpenuhi. Tapi hari ini saya mendapatkan 2.5 kilogram daging untuk saya dan keluarga, daging pertama semenjak tiga bulan lalu kami terakhir mampu membeli daging,” kata Jattal kala itu. Daging kurban pun langsung diolah menjadi hidangan lezat dan penuh nutrisi.

Mengalami keterbatasan yang sama dengan Jattal, Samia Kadam juga sulit mendapatkan pekerjaan untuk menghidupi keempat orang anaknya. Suaminya telah meninggal ketika konflik berkecamuk di Suriah sehingga ia mesti menghidupi sendiri anak-anaknya tersebut.

“Saya akhirnya pergi ke Hatay untuk mengamankan anak-anak dari pembunuhan dan penembakan. Tetapi di sini, saya tidak bisa menemukan pekerjaan yang dapat memenuhi kebutuhan keluarga saya, sehingga mesti bergantung pada bantuan-bantuan kemanusiaan,” kata Kadam yang mendapatkan 2.5 kilogram daging untuk keluarganya, “Dengan ini saya dapat memasak makanan bergizi untuk anak-anak bulan ini,” tambahnya.

Melihat kebutuhan warga Suriah yang masih mendesak hingga kini, Global Qurban berencana kembali menyapa para pengungsi Suriah pada Iduladha 1440 H. Masyarakat Indonesia, melalui Global Qurban, akan kembali mengantarkan daging-daging kurban bernutrisi untuk para pengungsi Suriah, sekaligus membagi kebahagiaan Iduladha pada mereka. []

Bagikan